Friday, January 9, 2015

MENGENAL JIN, SYAITAN DAN IBLIS [Bagian 7]

[ilustrasi]

KIAT-KIAT MENGHADAPI GANGGUAN JIN

Sebagaimana  telah  dijelaskan  di  atas,  bahwa  jin (setan)  senantiasa  mengganggu  dan  "menyerang" manusia  khususnya orang mukmin dari berbagai sisi dan dalam berbagai keadaan. Untuk itu, agar usaha mereka tidak  berhasil  dan dapat dipatahkan, maka seorang mukmin harus mempunyai "senjata" khusus dalam menghadapi  mereka.  Di  antara "senjata"  yang harus  dipegang seorang  mukmin dalam melawan "serangan" setan ini, adalah sebagai berikut:

1. BERLINDUNG DAN MEMOHON BANTUAN HANYA KEPADA ALLAH SWT
Mengenai "senjata" ini, Allah telah berfirman dalam surat al-A'raf ayat 199-200:
Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari  pada   orang-orang   yang  bodoh.  Dan  jika  kamu  ditimpa  sesuatu  godaan  syaitan  maka berlindunglah kepada  Allah .Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" (QS. Al-Araf: 199-200).

Adapun keadan atau situasi yang memungkinkan adanya gangguan jin adalah sebagai berikut;

    KETIKA MASUK WC

Rasulullah Saw menganjurkan agar setiap kali masuk ke WC, terlebih dahulu membaca doa sebagai   permohonan  perlindungan  kepada  Allah  dari  gangguan  setan  laki-laki  dan  setan perempuan. Hal ini sebagaimana tertuang dalam hadits berikut ini:
"Dari Zaid bin Arqam, Rasulullah Saw bersabda: "Sesungguhnya toilet-toilet itu dihuni oleh Jin.  Oleh  karena  itu,  apabila  seseorang  di antara  kalian masuk WC,  maka katakanlah: Allahumma Inni  audzubika minal khubutsi wal khabaits (Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari gangguan  jin  laki-laki  dan  jin  perempuan"  (HR.  Abu  Dawud,  Nasa'I,  Ibnu  Majah  dan Ahmad).

     KETIKA MARAH

Ketika seseorang marah, maka setan akan dengan mudah masuk dan menggodanya. Oleh karena itu, Rasulullah Saw mengajarkan bahwa ketika seseorang marah, hendaklah ia membaca ta'udz; audzubillahi minasyaithanir rajim. Hal ini sebagaimana dikatakan dalam sebuah hadits berikut ini:
"Dari  Sulaiman  bin  Shurad  berkata:  "Ada  dua  orang  saling  memaki  di  hadapan Rasulullah, saat itu kami sedang duduk di sampingnya. Salah seorang dari keduanya memaki temannya  dengan  sangat  marah  sehingga  tampak  mukanya  memar  merah.  Rasulullah  Saw kemudian bersabda:  "Sesungguhnya saya mengetahui sebuah kalimat yang apabila diucapkan, maka marah kalian akan  hilang, yaitu: Audzu billah minas syaithanir rajim (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk)" (HR. Bukhari Muslim).

    KETIKA BERHUBUNGAN BADAN SUAMI ISTRI

Rasulullah Saw juga menganjurkan agar sebelum melaksanakan hubungan badan, terlebih dahulu berdoa dan berlindung kepada Allah dari godaan setan. Dalam sebuah hadits dikatakan:
"Rasulullah  Saw  bersabda:  "Apabila  salah  seorang  dari  kalian  hendak  menggauli isterinya kemudian sebelum menggaulinya ia membaca doa: "Bismillah, allahumma jannibnaas syaithan  wa  jannibis  syaithana  ma  razaqtana"  (Dengan  menyebut  nama  Allah,  ya  Allah jauhkanlah kami dari gangguan dan godaan setan serta jauhkanlah setan itu dari apa yang akan Eukau  anugerahkan  kepada  kami  (anak),  maka  apabila  dari  hubungan  tersebut  ditakdirkan membuahkan seorang anak, maka anak  itu tidak akan diganggu  oleh setan selamanya" (HR. Muttafaq 'alaih).

    KETIKA TURUN DARI LEMBAH ATAU DARI RUMAH

Rasulullah  Saw mengajarkan bahwa apabila  seseorang  keluar dari rumah, atau melewati lembah, tempat angker hendaklah membaca doa sebagaimana tercantum dalam hadits berikut:
"Rasulullah Saw bersabda: "Kalau saja seseorang di antara kalian keluar rumah lalu berdoa:  Audzu bikalimatillahit tammati min syarri ma khalaq (Aku berlindung kepada Allah dengan  perantaraan kalimah Allah yang sempurna dari kejahatan makhluknya), maka ia tidak akan diganggu sedikitpun sejak ia berada di rumah itu sampai ia meninggalkannya" (HR. Ibnu Majah dengan sanad yang shahih).

    KETIKA MENDENGAN RINGKIKAN KELEDAI

Dalam hal ini Rasulullah bersabda:
"Abu Hurairah berkata, Rasulullah Saw bersabda:  "Apabila kalian mendengar ayam jantan berkukuruyuh (kongkorongok), maka mintalah karunia dari Allah, karena sesungguhnya ayam  itu  melihat  malaikat.  Dan  apabila  kalian  mendengar  ringkikan  keledai,  berlindunglah kepada Allah dari godaan dan tipu daya syaithan karena keledai itu telah melihat syaithan". (HR. Bukhari Muslim).

    KETIKA HENDAK MEMBACA AL-QUR'AN

Allah berfirman dalam surat an-Nahl ayat 98-99:
"Apabila kamu membaca Al-Qur`an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang- orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya" (QS. An-Nahl: 98-99).

2. MEMOHON PERLINDUNGAN ALLAH ATAS KELUARGA DAN SELURUH KETURUNAN
Dalam sebuah hadits dikatakan:
"Ibnu Abbas berkata: Rasulullah Saw pernah memohonkan perlindungan untuk Hasan dan Husain  (cucu beliau) dengan mengatakan: U'idzukuma bikalimatillahit tammah min kulli syaithan wa hammah wa min kulli 'ainin laammah (Aku memohon perlindungan untuk kamu berdua dengan perantaraan kalimah Allah yang sempurna dari semua kejahatan setan dan semua hawa nafsu, juga dari  semua  kejahatan  mata  yang  penuh  dengki)".  Rasulullah  Saw  kemudian  bersabda  kembali: "Sesungguhnya nenek moyang kalian berdua (maksudnya Nabi Ibrahim) juga pernah memohonkan perlindungan untuk kedua putranya Ismail dan Ishak" (HR. Bukhari).

3. SENANTIASA BERDZIKIR KEPADA ALLAH SWT
Hal ini sebagaimana disebutkan  dalam sebuah hadits, bahwa Nabi Yahya memerintahkan Bani Israil untuk melakukan lima hal. Salah satunya adalah dzikrullah, karena seseorang tidak dapat menjaga dirinya dari godaan setan, melainkan dengan dzikir kepada Allah (mengingat Allah).

Dalam al-Qur'an surat al-Araf ayat 201 Allah berfirman:
"Sesungguhnya  orang-orang  yang bertakwa  bila mereka ditimpa was-was dari  syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya" (QS. Al- Araf: 201)

- - - SELESAI - - -

-------

Baca Juga



Tuesday, January 6, 2015

MENGENAL JIN, SYAITAN DAN IBLIS [Bagian 6]


HUBUNGAN JIN DAN MANUSIA

Jin Kafir Musuh utama Manusia
Asal muasal permusuhan setan dengan manusia berawal sejak Adam diciptakan, bahkan sebelum Adam diciptakan. Permusuhan ini diawali dengan permusuhan antara nenek moyang setan yakni Iblis dengan nenek moyang manusia, Nabi Adam. Iblis pada awalnya makhluk yang taat beribadah kepada Allah sebagaimana malaikat. Akan tetapi ia memiliki perangai sombong dan keangkuhan sehingga tidak mau sujud kepada Nabi Adam. Dengan sombong Iblis mengatakan keengganan sujudnya itu:

 "Iblis berkata: "Aku lebih baik daripadanya (Adam), Engkau telah menciptakan saya dari api sementara Engkau menciptakannya dari tanah" (QS. Al-Araf 7:12).

Kesombongannya itulah yang menyebabkan Allah mengusir Iblis dari surga serta melaknat dan membencinya sampai hari kiamat kelak. Akan tetapi, sebelum diusir, iblis meminta satu permohonan kepada Allah untuk diijinkan hidup abadi sampai hari Kiamat datang, dan Allah pun mengabulkannya. Oleh karena itu, iblis sampai sekarang masih hidup dan tidak akan mati sebelum Kiamat terjadi. Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah:

"Iblis berkata: "Tangguhkanlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan". Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh" (QS. Al-A'raf: 14-15).

Penangguhan kematian iblis ini dimaksudkan agar ia leluasa dalam mengganggu dan menjerumuskan manusia dari jalan yang benar. Dalam al-Qur'an dikatakan, bahwa iblis akan senantiasa mengganggu dan menjerumuskan manusia dari berbagai lini, mulai dari depan, belakang, sisi kanan, kiri dan sebagainya. Ini artinya, kapanpun dan dimanapun, iblis dan setan akan terus mencari celah untuk dapat menggoda dan menjerumuskan manusia. Hal ini sebagaimana tertuang dalam firman Allah:

 "Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)" (QS. Al-Araf 7:16-17).

TARGET PERMUSUHAN JIN KAFIR (SETAN)

TARGET JANGKA PANJANG
Menjerumuskan manusia ke dalam api neraka, hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam surat Fatir ayat 6

 "Sesungguhnya  syaitan-syaitan  itu  hanya  mengajak  golongannya   supaya  mereka  menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala" (Fathir: 6).

TARGET JANGKA PENDEK

 1. Menjerumuskan manusia dalam perbuatan syirik dan kufur

 Syaithan senantiasa mengajak para hamba untuk menyembah selain Allah serta berusaha membuat mereka kufur kepada Allah dan syariatNya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam surat al-Hasyr ayat 16 berikut ini:

 "(Bujukan orang-orang  munafik itu adalah) seperti (bujukan) shaitan ketika dia berkata kepada manusia:  "Kafirlah kamu", maka tatkala manusia itu telah kafir,  maka ia berkata: "Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta Alam" (QS. Al-Hasyr:16).

Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa Rasulullah Saw suatu hari pernah berkhutbah:

 Artinya: "Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah memerintahkan saya untuk mengajarkan kepada kalian apa yang kalian belum ketahui yang pada hari ini Allah baru saja mengajarkannya kepada saya. Allah berfirman: "Seluruh  harta yang Aku karuniakan  kepada hamba adalah halal. Aku menciptakan hamba- hambaKu semuanya suci, bersih  dan lurus. Hanya saja, syaithan datang menggoda mereka. Syaithanlah yang memalingkan mereka dari agama mereka yang lurus, syaithan juga yang mengharamkan apa yang Aku halalkan  kepada mereka. Mereka juga menganjurkan dan  mengajak   para   hamba   untuk menyekutukanKu dengan sesuatu yang Aku sendiri belum menurunkan ilmu kepadanya" (HR. Muslim).

 2. Menjerumuskan manusia kepada perbuatan dosa dan durhaka

Dalam hal ini Rasulullah Saw bersabda:

"Rasulullah Saw bersabda: "Ingatlah, bahwasannya syaithan  sudah putus asa untuk disembah di negeri kalian ini. Akan tetapi kalian akan mentaatinya dalam perbuatan-perbuatan yang oleh kalian sendiri dipandang hina, dan syaithan akan meridhainya" (HR. Turmudzi dalam Shahih Sunannya).

Dalam hadits lain Rasulullah Saw juga bersabda:

"Jabir berkata, Rasulullah Saw bersabda: "Sesungguhnya syaithan telah putus asa untuk disembah oleh orang-orang yang shalat di daerah Arab, akan tetapi (syaithan akan diikuti) dalam hal memburu dan saling kasar di antar mereka" (HR. Muslim).

3. Menghalangi manusia untuk berbuat kebaikan

Bukan  hanya  menjerumuskan  manusia  ke  dalam  perbuatan  dosa  dan  durhaka,  syaithan  juga senantiasa menghalang-halangi manusia dari perbuatan baik dan taat. Dalam sebuah hadits dari Saburah bin Abi Fakih  bahwasannya ia mendengar Rasulullah Saw bersabda:

"Sesungguhnya syaithan selalu duduk (menggoda) keturunan Adam di semua sisi dan jalannya. Ia duduk di jalan Islam sambil berkata: "Kamu masuk Islam dan meninggalkan agamamu, agama bapak dan nenek moyangmu, mengapa?" Lalu hamba itu tidak menghiraukannya dan ia tetap masuk Islam.

Kemudian  syaithan  duduk  di  jalan  hijrah  sambil  berkata:  "Mengapa  kamu  berhijrah  segala sementara  kamu meninggalkan tanah air dan hartamu?" Hamba itu tidak mempedulikannya, dan ia pun tetap hijarah.

Kemudian syaithan duduk di jalan jihad sambil berakata: "Mengapa kamu hendak berjihad segala, padahal  dengan  demikian  kamu  akan  mengorbankan  harta  dan  nyawa  atau  kamu  akan  terbunuh. Mendingan  kamu  menikah  dengan  seorang  wanita,  lalu  berbagi  harta  dengannya?"  Hamba  tadi  tidak memperdulikannya, da ia pun tetap berjihad.

Rasulullah  bersabda  kembali:  "Barangsiapa  yang  melakukan  hal  demikian,  maka  Allah  berhak untuk memasukkannya ke dalam surga. Barang siapa yang terbunuh (dalam medan perang) atau tenggelam, maka Allah berhak untuk memasukkannya ke dalam surga" (HR. Nasai).

4. Merusak ketaatan

Apabila syaithan tidak dapat menggoda manusia untuk meninggalkan kebaikan dan taat, maka ia tetap akan  berusaha menggoda dan menjerumuskan manusia dengan cara merusak ketaatan dan kebaikan tersebut, agar si hamba  tidak mendapatkan pahala dari ketaatannya itu.  

Dalam sebuah hadits dikatakan, bahwa  Utsman  bin  al-Ash  pernah  datang  ke  pada  Rasulullah  Saw  sambil  berkata:  "Ya  Rasulullah, sesungguhnya syaithan telah menghalang-halangi antara saya dengan shalat dan membaca (al-Qur'an) saya, dengan cara berwujud dalam wujud Ali".

Mendengar  hal  itu  Rasulullah  Saw  bersabda:  "Syaithan  yang  mengganggu  kamu  itu  bernama Khinzib.  Apabila  kamu  merasakan  datangnya,  maka  berlindunglah  kepada  Allah  dari  godaannya  dan meludahlah  ke  sebelah  kiri  sebanyak  tiga  kali".  Utsman  berkata:  "Lalu  aku  melaksanakan  petunjuk Rasulullah Saw tadi, sehingga Allah mengusir syaithan itu dari saya" (HR. Muslim).

Apabila  seseorang  melaksanakan  shalat,  maka  syaithan  datang  membisikkan  dan  menggodanya dengan  cara, menyibukkan dengan berbagai hal, mengingat-ngingat urusan dunia, menghadirkan barang- barang yang hilang sampai membuat orang yang shalat itu ngantuk atau lalai. Dalam hadits riwayat Imam Bukhari dikatakan:

"Dari Abu  Hurairah,  bahwasannya Rasulullah  Saw bersabda: "Apabila dipanggil untuk shalat (adzan berkumandang), Syaithan segera membelakangi sambil kentut dengan keras sehingga orang itu tidak mendengar  adzan  tersebut. Apabila adzan telah selesai, ia  segera   menghampirinya. Apabila ia melaksanakan shalat, ia kembali membelakangi sambil membisikkan antara  seseorang dengan dirinya. Syaithan itu mengatakan: ingat ini, ingat itu, sehingga ia tidak tahu berapa rakaat dia  shalat" (HR. Bukhari Muslim).

Tidak sampai di sana, syaithan juga menggoda dengan jalan membisikkan kepada seseorang untuk lewat  dihadapan  orang  yang  sedang  shalat.  Dalam sebuah  hadits  riwayat  Imam Bukhari  dikatakan, bahwa  Shalih  as-Samman  pernah  melihat  Abu  Said  al-Khudry  pada  hari Jumat sedang melaksanakan shalat. Tiba-tiba seorang pemuda dari Bani Mu'ith bermaksud melewat di hadapan Abu Said yang sedang shalat. Abu Said kemudian menahan  dan menghalanginya. Pemuda itu kemudian menatap Abu Said, dan kembali mencoba melewatinya, akan tetapi Abu  Said kembali menghalanginya dengan lebih keras lagi. Pemuda  itu  kemudian  menghadap  kepada Marwan.  Marwan kemudian  bertanya  kepada  Abu  Said: "Mengapa  kamu  melakukan  hal  demikian  kepada  putra  saudaramu  ini,  wahai  Abu  Said?"  Abu  Said menjawab: Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda:

 "Apabila seseorang sedang shalat menghadapi sesuatu yang menghalanginya dari orang banyak, lalu seseorang berusaha untuk melewatinya, maka halangilah dia. Apabila ia menolak dan terus hendak melewatinya, maka perangilah dia karena dia itu adalah syaithan" (HR. Bukhari).

 5. Menyakiti anggota tubuh dan jiwa manusia

Di samping menggoda dan menjerumuskan dari ketaatan, syaithan juga seringkali menyakiti tubuh, anggota fisik dan jiwa manusia. Untuk lebih jelasnya akan hal ini, berikut dalil-dalil dan kisah-kisah yang membuktikan hal tersebut.

Dalam  sebuah  hadits  dikatakan  bahwa  Rasulullah  Saw  pernah  suatu  saat  ketika  sedang melaksanakan shalat, Iblis bermaksud melemparkan anak panah apinya  ke wajah Rasulullah Saw, akan tetapi Rasulullah kemudian berlindung kepada Allah sehingga Iblis tersebut dapat dilumpuhkan    sebagaimana   telah   dipaparkan   pada   pembahasan   tentang   kelemahan- kelemahan jin dan setan  pada sub, jin dan setan tunduk dan taat kepada Nabi Sulaiman.

Untuk menyakiti jiwa seseorang, syaithan juga datang dalam mimpi. Dalam berbagai keterangan dikatakan bahwa syaithan dapat datang menjelma dalam mimpi seseorang  dengan  cara  mengganggu  dan  menyempitkan  hatinya  sehingga  orang  tersebut menjadi sedih dan putus asa. Oleh karena itu, dalam sebuah hadits dikatakan, bahwa mimpi itu ada tiga macam: Artinya: 

Abu Hurairah  berkata:  "Mimpi  itu  ada  tiga  macam;  Mimpi  yang berupa kabar gembira yang bersumber dari Allah, mimpi yang merupakan bisikan hati, dan mimpi yang menakutkan yang bersumber dari syaithan"

(HR. Ibnu Majah). Dalam hadits lain dikatakan:

"Abu  Said   al-Khudri  pernah   mendengar  Rasulullah   Saw  bersabda:"Apabila seseorang  bermimpi yang menyenangkan, maka itu bersumber dari Allah, oleh karenanya bertahmidlah  (ucapkanlah  alhamdulillah),  dan  sebut-sebutlah  dia  di  hadapan  orang  lain. Apabila  ia  bermimpi  yang  menakutkan  atau  bermimpi  sesuatu  yang  dibenci,  maka  ia bersumber dari syaithan, karenanya berlindunglah kepada Allah dari kejahatannya (ucapkan audzubillah minasyaithan  wa  sayyiatil ahlam), dan janganlah  ia menyebut-nyebutkannya kepada  orang  lain.  Kalau  ia  berlindung  kepada  Allah  (mengucapkan  ta'udz  tadi),  maka syaithan itu tidak akan bisa menyakitinya" (HR. Bukhari).
   
Membakar rumah. Selain  menyakiti  tubuh  dan  jiwa,  syaithan  juga  seringkali  berbuat  jahat  berupa menghilangkan harta, kekayaan dan tempat tinggal, berupa membakar rumah.Dalam sebuah hadits dikatakan: Artinya: 

"Rasulullah  Saw  bersabda:  "Apabila kalian  tidur,  matikanlah  lampunya, karena syaithan  seringkali berwujud  seekor tikus yang membawa sesuatu (yang mudah dibakar) yang ditujukkan ke  lampu tersebut sehingga  dapat membakar kalian" (HR. Abu  Dawud dengan sanad shahih).
 
Mengganggu orang yang sedang sakaratul maut. Syaithan memang musuh yang paling nyata. Semua lini dan sisi, ia terus masuki dengan  tujuan dapat menjerumuskan manusia  ke  dalam kedurhakaan.  Bukan  saja ketika masih hidup, akan  tetapi ketika menjelang ajal sekalipun. Ketika manusia sakaratul maut, syaithan masih menggoda dan mengganggu           dengan jalan memukul-mukul dan membisikkan hal-hal keduniawian agar orang yang sedang  sakaratul  maut  tadi  tidak mengingat  Allah lagi. Oleh karena itu, Rasulullah menganjurkan agar orang yang sedang sakaratul  maut  ditalqin  (dibimbing  dengan  kalimat-kamimat  yang  baik) sehingga ketika nyawa dan ruhnya lepas, ia senantiasa mengingat kepada   Allah.Dalam   sebuah hadits dikatakan bahwa Rasulullah menganjurkan ummatnya untuk berlindung dari  godaan syaithan ketika sakaratul maut tadi dengan membaca doa berikut ini:

"Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari bimbangan, kehancuran,  tenggelam, kebakaran.  Aku juga berlindung kepadaMu dari godaan dan pukulan syaithan ketika   sakaratul  maut.  Aku  juga  berlindung  kepadaMu  dari  kematian  yang  lari  dari jalanMu, juga dari kematian yang sangat sakit menyengat" (HR.Nasai)

Menyakiti setiap bayi yang baru lahir. Selain  yang  sedang  sakaratul  maut,  syaithan  juga  seringkali  menyakiti  setiap bayi yang baru lahir. Dalam hadits dikatakan:

"Dari  Abu  Hurairah,  Rasulullah  Saw  bersabda:  "Setiap  keturunan  Adam,  pasti disentuh  oleh syaithan ketika lahirnya kecuali Siti Maryam dan putranya (Nabi Isa)" (HR. Muslim).  "Rasulullah  saw  bersabda:  "Setiap  keturunan  Adam  yang  lahir  pasti  dicubit oleh jari-jari syaithan di kedua pinggirnya kecuali Isa putranya Maryam" (HR. Bukhari). "Abu  Hurairah  berkata:  "Saya  pernah  mendengar  Rasulullah  Saw  bersabda: "Tidak  ada  seorangpun  bayi yang baru dilahirkan dari keturunan Adam, kecuali ia telah disentuh  (dicubit)  oleh  syaithan  sehingga  ia  lahir  sambil  berteriak  (menangis)  karena cubitan syaithan tersebut, kecuali Maryam dan putranya (Nabi Isa)" (HR. Bukhari).

Dalam hadits dikatakan, Siti Maryam dan putranya tidak terkena cubitan syaithan karena berkat doa dari ibunya, ibunya Siti Maryam, yang berdoa: "(Ibunya Maryam berdoa) dan aku   melindungkannya (Siti   Maryam)  dan keturunannya kepadaMu dari gangguan syaithan yang terkutuk" (QS. Ali Imaran: 36).

Apakah  hanya  Siti  Maryam  dan  putranya  yang  tidak  diganggu  oleh  syaithan ketika dilahirkan? Jawabannya tidak. Mungkin masih banyak lagi yang juga tidak diganggu oleh syaithan. Dalam hadits lain riwayat Imam Bukhari dikatakan, bahwa Ammar bin Yasir pun termasuk salah seorang yang tidak  diganggu dan tidak dicubit ketika ia dilahirkan.

Menebarkan penyakit Tha'un. Syaithan  juga  seringkali  menyebarkan  penyakit  menular  semisal  penyakit  kulit dan yang  lainnya. Akan tetapi hal ini tidak dapat dipahami bahwa semua wabah penyakit menular adalah  bersumber  dari  syaithan.  Boleh  jadi  karena  tempat  tersebut  kotor,  tidak bersih. Syaithan hanyalah  salah satu faktor penyebab hal itu. Dalam   sebuah   hadits Rasulullah bersabda: Rasulullah  Saw  bersabda: 

"Penyakit Tha'un dan Duri musuh-musuh kalian itu semuanya dari Jin. Ia (jin itu) menyaksikan kalian semua" (HR. Hakim). Bahkan, dalam salah satu keterangan juga dikatakan  bahwa  darah  istihadah  juga terkadang  dari syaithan. Rasulullah bersabda kepada Hamnah bint Jahsy: "Ini (darah istihadah) adalah kotoran syaithan" (HR. Abu Dawud dan Nasai). Akan tetapi sekali lagi, tidak  berarti bahwa setiap yang mengidap penyakit istihadah, itu bersumber dari syaithan, akan tetapi boleh jadi karena faktor makanan atau  hal lainnya. Hanya saja, syaithan juga terkadang menyakiti perempuan dengan jalan istihadah ini.

Ikut makan, minum dan tinggal bersama manusia. Termasuk salah satu menyakiti dan melukai manusia, syaithan juga seringkali ikut serta dengan manusia dalam makan, minum dan tinggal. Hal ini dimaksudkan tentunya agar syaithan lebih leluasa dalam menjerumuskan dan menggoda manusia ke jalan yang sesat Dalam berbagai keterangan dikatakan, ketika seseorang makan, minum dan masuk atau  keluar rumah tanpa menyebut  nama  Allah  (tanpa  berdoa),  maka  syaithan  akan mengikutinya; ia akan ikut makan, minum dan tidur di rumah. Akan tetapi bagi mereka yang menyebut nama Allah ketika makan, minum dan tidurnya, maka syaithan tidak akan pernah menyentuh makanan, minuman dan tempat tidur atau tempat tinggal orang tersebut.

Untuk itu, pantas, bila Rasulullah S.A.W senantiasa mengajarkan dan menganjurkan ummatnya untuk selalu membaca doa atau paling  tidak  menyebut  nama  Allah  dalam  setiap  gerak geriknya termasuk dalam makan, minum dan tidurnya.  Hal ini, bukan  saja untu  meraup pahala dan mengikuti sunnah Rasulullah Saw, akan tetapi juga demi kebaikan  orang tersebut,  yakni  terhindar  dari  gangguan  jin  kafir  (syaithan)  yang  setiap  detik  berusaha mengganggu dan menjerumuskan manusia dalam kenistaan.

Untuk lebih jelasnya, berikut adalah hadits-hadits yang menerangkan tentang hal di atas: 1) Syaithan akan ikut makan dan minum, ketika orang tersebut tidak mengucapkan doa atau  tidak  menyebut nama Allah terlebih dahulu.  Hal ini sebagaimana  dikisahkan dalam sebuah  hadits  ayng  diriwayatkan  oleh  Imam  Muslim,  bahwasannya  Hudzaifah  berkata:

"Kami (para sahabat) apabila berkumpul bersama Rasulullah Saw, lalu dihadirkan makanan kepadanya, kami tidak berani menyentuh makanan tersebut sebelum Rasulullah Saw terlebih dahulu menyentuhnya. Suatu hari,  dihidangkan kepada kami makanan tersebut. Tiba-tiba, datang seorang budak  perempuan yang  sudah  tidak sabaran. Begitu  melihat makanan di hadapan kami, ia langsung bergegas menghampirinya dan langsung menyodorkan tangannya untuk menyentuh  makanan  tersebut.  Rasulullah  Saw  kemudian  memegang  dan  menahan tangan budak wanita tadi. Tidak lama dari itu, datang juga seorang arab badewi, juga sama menyodorkan tangannya untuk meraih makanan, akan  tetap Rasulullah Saw menahan dan memegang tangannya itu. Rasulullah kemudian bersabda:

"Sesungguhnya syaithan akan ikut memakan makanan yang tidak disebutkan nama Allah sebelumnya. Syaithan barusan datang menyertai  budak  wanita  tadi,  lalu  syaithan  itu  bermaksud  mengambil  makanan  dengan menggunakan tangan budak wanita itu. Demikian juga, setan datang menyertai orang arab badewi  tadi untuk mengambil makanan,  dan  karena  itulah  saya  pegang  dan  saya  tahan tangan  kedua  orang  tadi.  Demi  diri Ku  yang berada  pada  kekuasaanNya,  sesungguhnya tangannya itu (tangan setan) berada pada tangan saya bersama dengan tangan budak wanita tadi" (HR. Muslim).

Setan akan merusak kekayaan manusia dan akan tinggal di dalam bejana / lemari yang  tidak  disebutkan  nama  Allah  sebelumnya.  Dalam  sebuah  hadits  dikatakan,  untuk menjaga agar setan tidak merusak harta dan tidak ikut masuk ke dalam rumah, sebaiknya ketika menutup pintu, lemari dan lainnya, terlebih dahulu berdoa atau paling tidak menyebut nama Allah. Dalam sebuah hadits dikatakan:

"Rasulullah Saw bersabda: "Tutuplah pintu-pintu, dan sebutlah nama Allah (ketika menutupnya), karena setan tidak akan membuka pintu yang sudah terkunci dengan menyebut nama Allah. Tutup jugalah tempat air minum (qirab dalam bahasa Arab adalah tempat menyimpan air  minum yang terbuat dari kulit binatang) dan bejana-bejana kalian (untuk masa sekarang  seperti  lemari, bupet, kulkas  dan  lainnya) sambil menyebut nama Allah, meskipun kalian hanya  menyimpan sesuatu di dalamnya dan (ketika hendak tidur), matikanlah lampu-lampu kalian" (HR. Muslim).

Orang yang makan dan minum sambil berdiri, akan ditemani setan. Dalam berbagai keterangan,  Rasulullah  menganjurkan  ummatnya  agar  ketika  makan  dan  minum  sambil duduk, tidak sambil berdiri. Kecuali ketika minum air zam zam, Rasulullah mensunatkan ummatnya  untuk  minum  sambil  berdiri,  karena  dalam  sebuah  hadits  dikatakan,  bahwa Rasulullah  minum  air  zam  zam  sambil  berdiri.  Rasulullah  melarang  ummatnya  untuk meminum atau makan sambil berdiri karena makan dan minumnya akan disertai oleh setan. Berikut ini hadits yang dimaksudkan:

"Rasulullah suatu hari melihat seorang laki-laki yang minum sambil berdiri. Lalu Rasulullah  Saw berkata kepadanya: "Duduklah!" Laki-laki itu menjawab: "Mengapa saya mesti  duduk?" Rasulullah  Saw menjawab: "Apakah kamu bahagia kalau minum bersama kucing?" Laki-laki itu menjawab: "Tidak". Rasulullah Saw bersbda kembali: "Sesungguhnya kamu tadi telah minum dengan sesuatu yang jauh lebih jahat dari pada  kucing, yaitu setan" (HR. Imam Ahmad, dan Bazzar).

Setan ikut masuk ke dalam rumah yang tidak menyebut nama Allah (berdoa) ketika masuknya. Dalam sebuah hadits dikatakan:

"Dari Jabir bin Abdillah bahwasannya ia mendengar Rasulullah Saw bersabda: "Apabila seseorang masuk rumah, lalu ia menyebut nama Allah ketika masuk (rumah) dan ketika  makan, maka syaithan akan berkata (kepada sesama syaithan lainnya): "Kalian tidak dapat nginep  dan tidak  bisa  makan malam". Namun apabila ia masuk rumah, dan tidak menyebut nama Allah (berdoa)  ketika masuk dan makannya, syaithan akan berkata: "Nah, sekarang kalian bisa nginep dan bisa makan malam" (HR. Muslim).

Masuk ke tubuh manusia. Selain  menyakiti  badan,  jiwa  dan  menyertai  manusia  dalam  segala  gerak  dan langkahnya, setan juga seringkali masuk ke tubuh manusia. Dalam istilah Indonesia sering disebut dengan Kesurupan, dan dalam bahasa Sunda dikenal dengan Kaasupan Jurig (dalam bahasa  arab  ashar'u atau  lams al-jin). Sehubungan  dengan  masalah  kesurupan  ini,  Ibnu Taimiyyah dalam  bukunya Majmu al-Fatawa(24/276),  berkata:

"Para ulama ahli sunnah wal jama'ah sepakat, bahwa  jin dapat masuk ke dalam tubuh dan badan manusia. Hal ini berdasarkan firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 275: "Orang-orang  yang  makan  (mengambil) riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang  yang kemasukan  setan  lantaran  tekanan penyakit  gila" (QS. Al-Baqarah:275)."

Abdullah  bin  Ahmad  bin  Hanbal  pernah  bertanya  kepada  ayahnya,  Ahmad  bin Hanbal:  "Sesungguhnya orang-orang  berkata  bahwa  jin tidak bisa masuk ke badan  orang- orang yang kesurupan. Imam Ahmad bin Hanbal berkata: "Anakku, mereka berkata bohong. Mereka hanya berkata dengan ucapannya sendiri" Ibnu  Taimiyyah  juga  berkata:  "Perkataan  ini  (jin  dapat  masuk  ke  dalam  tubuh manusia)   adalah   perkataan   yang   masyhur   (dikenal   oleh   semua   ulama).  

Orang yang kemasukkan jin (kesurupan)  tidak akan merasakan sakit ketika dipukul, kata-katanya akan ngelantur. Orang yang kemasukan jin ini akan menampakkan banyak keanehan, mulai  dari bicara  dan  gerakannya.  Seolah-olah  yang  berkata  dan  bergerak  itu  adalah orang tersebut (orang yang kesurupannya), padahal hakikatnya adalah jenis lain, bukan manusia (yaitu jin)".

Bahkan, Ibnu  Taymiyyah masih dalam al-Majmu'nya  mengatakan: "Tidak ada seorangpun ulama yagn  mengingkari  bahwa  jin  dapat  memasuki  tubuh  manusia  yang  lalai  mengingat Allah. Barangsiapa yang  mengingkari  hal ini dan mengatakan bahwa syara' tidak mengakui hal demikian, maka sungguh dia telah mendustai syara itu sendiri. Tidak ada dalam dalil-dalil syara yang menolak hal itu (tidak  ada  dalil satu pun  yang mengingakari bahwa  jin dapat masuk  ke  tubuh  manusia  yang  kesurupan).  Mereka  yang  mengingkari  hal  ini  hanyalah sekelompok kecil dari golongan Mu'tazilah yakni Imam Al-Jubai dan Abu Bakar ar-Razi.

Bersambung ke Bagian 7

-------

Baca Juga