Saturday, June 29, 2013

Wisata Batin ke Makam Sunan Pandanaran Bayat

Komplek pemakaman Sunan Pandanaran Bayat

Sunan Pandanaran Bayat atau dikenal juga dengan beberapa nama yakni Sunan Bayat, Pangeran Mangkubumi, Susuhunan Tembayat, Sunan Pandanaran (II), atau Wahyu Widayat, adalah tokoh yang disebut sebut dalam sejarah lisan sebagai salah satu penyebar agama Islam di tanah Jawa meski tidak masuk dalam jajaran Wali Songo, beliau juga terkait dengan sejarah Kota Semarang.

Makamnya terletak di puncak gunung Jabalkat yang sebenarnya hanyalah sebuah bukit, di dalam wilayah Desa Paseban Bayat, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Dan layaknya makam seorang wali makam Sunan Pandanaran Bayat tak penah sepi dari para peziarah yang datang dari berbagai pelosok Nusantara.


Lihat Makam Sunan Pandanaran Bayat di peta yang lebih besar


Lihat Makam Sunan Pandanaran Bayat di peta yang lebih besar

Siapa sebenarnya Sunan Pandanaran Bayat ?. Setidaknya ada empat versi mengenai asal-usul beliau, namun semua-nya sepakat bahwa Sunan Pandanaran Bayat adalah Pangeran Mangkubumi putra dari Ki Ageng Pandan Arang, bupati pertama Semarang. Sepeninggal Ki Ageng Pandan Arang, putranya, Pangeran Mangkubumi, menggantikannya sebagai bupati Semarang kedua.

Konon dimasa awal pemerintahannya Dia menjalankan pemerintahan dengan baik dan selalu patuh dengan ajaran – ajaran Islam seperti halnya mendiang ayahnya. Namun lama-kelamaan terjadilah perubahan. Tugas-tugas pemerintahan sering dilalaikan, begitu pula mengenai perawatan pondok-pondok pesantren dan tempat-tempat ibadah.

Gerbang Makam Sunan Pandanaran Bayat, siap siap mendaki tangga yang tinggiiiiiii
Sultan Demak Bintara, yang mengetahui hal ini, lalu mengutus Sunan Kalijaga untuk menyadarkannya. Dibagian inipun ada berbagai versi tentang bagaimana Sunan Kalijaga menyadarkan sang bupati. Namun, pada akhirnya, Pangeran Mangkubumi menyadari kelalaiannya, dan memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan duniawi dan menyerahkan jabatan Bupati Semarang kepada adiknya.

Pangeran Mangkubumi kemudian berpindah ke selatan (entah karena diperintah sultan Demak Bintara ataupun atas kemauan sendiri, sumber-sumber saling berbeda versi), didampingi isterinya, melalui daerah yang sekarang dinamakan Salatiga, Boyolali, Mojosongo, Sela Gringging dan Wedi, menurut suatu babad. Konon sang pangeran inilah yang memberi nama tempat-tempat itu).

Masjid Sunan Bayat
Sampai kemudian menetap di Tembayat, yang sekarang bernama Bayat, Klaten, hingga ahir hayatnya dan dimakamkan disana. Disana beliau menyiarkan Islam kepada para pertapa dan pendeta di sekitarnya. Karena kesaktiannya ia mampu meyakinkan mereka untuk memeluk agama Islam. Oleh karena itu ia disebut sebagai Sunan Tembayat atau Sunan Bayat.

Tak dapat difungkiri, hampir semua makam para wali senantiasa dikaitkan dengan aura mistis dan karomah, yang kemudian berkembang mitos mitos terkait hal hal yang ada di makam makam tersebut. Seperti di komplek makam Sunan Pandanaran Bayat inipun berkembang begitu banyak mitos.***