Monday, March 21, 2016

Kalian Adalah Ummat Terbaik



"Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang yang mungkar dan beriman kepada Allah, dan kalau sekiranya ahlul kitab beriman, tentulah hal itu lebih baik bagi mereka, diantara mereka ada orang2 yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang2 fasik) Surat Ali mran ayat 110.

Ibnu Katsir dan Muhammad Ali Ashshobuni berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kata ”kalian” dalam ayat tersebut adalah umat Rasulullah s.a.w.

Ibnu Katsir berpendapat demikian berdasarkan hadits Rasulullah yang mengatakan:”U’thitu maa lam yu’tha ahadin minal ambiyaa’I (Aku diberi oleh Allah apa yg tidak diberikan kpd seorang Nabi-pun sebelumku) salah satu diantaranya adalah :”ju’ilat ummati khairul umami.” (Umatku dijadikan ummat yang terbaik).

Muhammad Ali Ashshobuuni didalam tafsirnya :”Antum yaa ummati Muhammad Rasulullah saw khaira ummatin (kalian wahai ummat Muhammad Rasulullah saw adalah ummat terbaik), liannakum anfa’annaasu linnaasi (disebabkan kalian adalah umat yg paling banyak manfaatnya bagi orang lain), hal ini sesuai dengan apa yang disabdakan oleh Rasulullah saw bahwa:”Sebaik-baik kalian adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.”

Bila kita ingin termasuk dalam golongan muslim yang disebut dengan kalimat kuntum sebagaimana ayat tersebut, maka kita harus berlomba menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain

Menurut hadits Rasulullah yg diriwayatkan oleh Abu Hurairah :” Khairunnaasi Ta’tuuna bihim fii salaasili fii a’naaqihim hattaa yadkhuluu filislam.” (Sebaik-baik manusia adalah yg datang kepada mereka ketika mereka dalam keadaan terbelenggu leher leher mereka hingga kemudian akhirnya mereka masuk Islam).

Sayidina Umar bin Khathab r.a. mengatakan: ”Man sarrahu an yakuna min haadzihil’ummati falyu’diy syarathallahi bihaa.”(Barang siapa yg ingin termasuk didalam golongan/kelompok ummat yang telah disebutkan didalam ayat ini, maka hendaklah mereka melaksanakan hal hal yang telah dipersyaratkan oleh Allah swt yaitu menyuruh kepada yang makruf , mecegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah.).


(Diantara mereka para ahlkul kitab itu ada sekelompok kecil orang orang yang beriman seperti halnya Raja Najasi dan Abdullah bin Salam, maka jangan heran ketika raja najasi meninggal dunia, Rasulullah s.a.w berkenan menyolatkannya, karena raja Najasi ini adalah salah seorang ahlul kitab yang beriman kepada Al Quran dan membenarkan apa saja yang datang/disampaikan oleh Rasulullah s.a.w.).***

Thursday, September 17, 2015

Piramida Kejayaan Nusantara

Pramida, Bangunan yang dikenal sebagai salah satu warisan sejarah peradaban manusia di masa lampau. mewakili [barangkali] segelintir dari peradaban terdepan di masa lalu. Bukan bangunan biasa, itu sudah pasti. dia kekar berdiri melewati rentang perjalanan waktu yang teramat panjang hanya untuk mengantarkan sebuah cerita yang sedikit demi sedikit mulai terungkap oleh manusia di jaman ini tentang sebuah kejayaan yang pernah ada di masa yang teramat jauh dari sini.

Indonesia mewarisi diantara beberapa-nya yang sudah terungkap dan diungkapkan, fakta yang terkuak mengcengangkan pemerhatinya. menyadari telah diwarisi khasanah peradaban teramat maju yang semestinya menjadi cemeti semangat untuk kembali berjaya. fakta dari masa lalu telah membeberkan kepada kita bahwa para pendahulu kita bukan bangsa-nya kaum marjinal, tapi [bahkan] lebih dari sekedar kata setara dibandingkan bangsa lain nya di dunia. . . .

Friday, January 9, 2015

MENGENAL JIN, SYAITAN DAN IBLIS [Bagian 7]

[ilustrasi]

KIAT-KIAT MENGHADAPI GANGGUAN JIN

Sebagaimana  telah  dijelaskan  di  atas,  bahwa  jin (setan)  senantiasa  mengganggu  dan  "menyerang" manusia  khususnya orang mukmin dari berbagai sisi dan dalam berbagai keadaan. Untuk itu, agar usaha mereka tidak  berhasil  dan dapat dipatahkan, maka seorang mukmin harus mempunyai "senjata" khusus dalam menghadapi  mereka.  Di  antara "senjata"  yang harus  dipegang seorang  mukmin dalam melawan "serangan" setan ini, adalah sebagai berikut:

1. BERLINDUNG DAN MEMOHON BANTUAN HANYA KEPADA ALLAH SWT
Mengenai "senjata" ini, Allah telah berfirman dalam surat al-A'raf ayat 199-200:
Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari  pada   orang-orang   yang  bodoh.  Dan  jika  kamu  ditimpa  sesuatu  godaan  syaitan  maka berlindunglah kepada  Allah .Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" (QS. Al-Araf: 199-200).

Adapun keadan atau situasi yang memungkinkan adanya gangguan jin adalah sebagai berikut;

    KETIKA MASUK WC

Rasulullah Saw menganjurkan agar setiap kali masuk ke WC, terlebih dahulu membaca doa sebagai   permohonan  perlindungan  kepada  Allah  dari  gangguan  setan  laki-laki  dan  setan perempuan. Hal ini sebagaimana tertuang dalam hadits berikut ini:
"Dari Zaid bin Arqam, Rasulullah Saw bersabda: "Sesungguhnya toilet-toilet itu dihuni oleh Jin.  Oleh  karena  itu,  apabila  seseorang  di antara  kalian masuk WC,  maka katakanlah: Allahumma Inni  audzubika minal khubutsi wal khabaits (Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari gangguan  jin  laki-laki  dan  jin  perempuan"  (HR.  Abu  Dawud,  Nasa'I,  Ibnu  Majah  dan Ahmad).

     KETIKA MARAH

Ketika seseorang marah, maka setan akan dengan mudah masuk dan menggodanya. Oleh karena itu, Rasulullah Saw mengajarkan bahwa ketika seseorang marah, hendaklah ia membaca ta'udz; audzubillahi minasyaithanir rajim. Hal ini sebagaimana dikatakan dalam sebuah hadits berikut ini:
"Dari  Sulaiman  bin  Shurad  berkata:  "Ada  dua  orang  saling  memaki  di  hadapan Rasulullah, saat itu kami sedang duduk di sampingnya. Salah seorang dari keduanya memaki temannya  dengan  sangat  marah  sehingga  tampak  mukanya  memar  merah.  Rasulullah  Saw kemudian bersabda:  "Sesungguhnya saya mengetahui sebuah kalimat yang apabila diucapkan, maka marah kalian akan  hilang, yaitu: Audzu billah minas syaithanir rajim (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk)" (HR. Bukhari Muslim).

    KETIKA BERHUBUNGAN BADAN SUAMI ISTRI

Rasulullah Saw juga menganjurkan agar sebelum melaksanakan hubungan badan, terlebih dahulu berdoa dan berlindung kepada Allah dari godaan setan. Dalam sebuah hadits dikatakan:
"Rasulullah  Saw  bersabda:  "Apabila  salah  seorang  dari  kalian  hendak  menggauli isterinya kemudian sebelum menggaulinya ia membaca doa: "Bismillah, allahumma jannibnaas syaithan  wa  jannibis  syaithana  ma  razaqtana"  (Dengan  menyebut  nama  Allah,  ya  Allah jauhkanlah kami dari gangguan dan godaan setan serta jauhkanlah setan itu dari apa yang akan Eukau  anugerahkan  kepada  kami  (anak),  maka  apabila  dari  hubungan  tersebut  ditakdirkan membuahkan seorang anak, maka anak  itu tidak akan diganggu  oleh setan selamanya" (HR. Muttafaq 'alaih).

    KETIKA TURUN DARI LEMBAH ATAU DARI RUMAH

Rasulullah  Saw mengajarkan bahwa apabila  seseorang  keluar dari rumah, atau melewati lembah, tempat angker hendaklah membaca doa sebagaimana tercantum dalam hadits berikut:
"Rasulullah Saw bersabda: "Kalau saja seseorang di antara kalian keluar rumah lalu berdoa:  Audzu bikalimatillahit tammati min syarri ma khalaq (Aku berlindung kepada Allah dengan  perantaraan kalimah Allah yang sempurna dari kejahatan makhluknya), maka ia tidak akan diganggu sedikitpun sejak ia berada di rumah itu sampai ia meninggalkannya" (HR. Ibnu Majah dengan sanad yang shahih).

    KETIKA MENDENGAN RINGKIKAN KELEDAI

Dalam hal ini Rasulullah bersabda:
"Abu Hurairah berkata, Rasulullah Saw bersabda:  "Apabila kalian mendengar ayam jantan berkukuruyuh (kongkorongok), maka mintalah karunia dari Allah, karena sesungguhnya ayam  itu  melihat  malaikat.  Dan  apabila  kalian  mendengar  ringkikan  keledai,  berlindunglah kepada Allah dari godaan dan tipu daya syaithan karena keledai itu telah melihat syaithan". (HR. Bukhari Muslim).

    KETIKA HENDAK MEMBACA AL-QUR'AN

Allah berfirman dalam surat an-Nahl ayat 98-99:
"Apabila kamu membaca Al-Qur`an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang- orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya" (QS. An-Nahl: 98-99).

2. MEMOHON PERLINDUNGAN ALLAH ATAS KELUARGA DAN SELURUH KETURUNAN
Dalam sebuah hadits dikatakan:
"Ibnu Abbas berkata: Rasulullah Saw pernah memohonkan perlindungan untuk Hasan dan Husain  (cucu beliau) dengan mengatakan: U'idzukuma bikalimatillahit tammah min kulli syaithan wa hammah wa min kulli 'ainin laammah (Aku memohon perlindungan untuk kamu berdua dengan perantaraan kalimah Allah yang sempurna dari semua kejahatan setan dan semua hawa nafsu, juga dari  semua  kejahatan  mata  yang  penuh  dengki)".  Rasulullah  Saw  kemudian  bersabda  kembali: "Sesungguhnya nenek moyang kalian berdua (maksudnya Nabi Ibrahim) juga pernah memohonkan perlindungan untuk kedua putranya Ismail dan Ishak" (HR. Bukhari).

3. SENANTIASA BERDZIKIR KEPADA ALLAH SWT
Hal ini sebagaimana disebutkan  dalam sebuah hadits, bahwa Nabi Yahya memerintahkan Bani Israil untuk melakukan lima hal. Salah satunya adalah dzikrullah, karena seseorang tidak dapat menjaga dirinya dari godaan setan, melainkan dengan dzikir kepada Allah (mengingat Allah).

Dalam al-Qur'an surat al-Araf ayat 201 Allah berfirman:
"Sesungguhnya  orang-orang  yang bertakwa  bila mereka ditimpa was-was dari  syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya" (QS. Al- Araf: 201)

- - - SELESAI - - -

-------

Baca Juga



Tuesday, January 6, 2015

MENGENAL JIN, SYAITAN DAN IBLIS [Bagian 6]


HUBUNGAN JIN DAN MANUSIA

Jin Kafir Musuh utama Manusia
Asal muasal permusuhan setan dengan manusia berawal sejak Adam diciptakan, bahkan sebelum Adam diciptakan. Permusuhan ini diawali dengan permusuhan antara nenek moyang setan yakni Iblis dengan nenek moyang manusia, Nabi Adam. Iblis pada awalnya makhluk yang taat beribadah kepada Allah sebagaimana malaikat. Akan tetapi ia memiliki perangai sombong dan keangkuhan sehingga tidak mau sujud kepada Nabi Adam. Dengan sombong Iblis mengatakan keengganan sujudnya itu:

 "Iblis berkata: "Aku lebih baik daripadanya (Adam), Engkau telah menciptakan saya dari api sementara Engkau menciptakannya dari tanah" (QS. Al-Araf 7:12).

Kesombongannya itulah yang menyebabkan Allah mengusir Iblis dari surga serta melaknat dan membencinya sampai hari kiamat kelak. Akan tetapi, sebelum diusir, iblis meminta satu permohonan kepada Allah untuk diijinkan hidup abadi sampai hari Kiamat datang, dan Allah pun mengabulkannya. Oleh karena itu, iblis sampai sekarang masih hidup dan tidak akan mati sebelum Kiamat terjadi. Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah:

"Iblis berkata: "Tangguhkanlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan". Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh" (QS. Al-A'raf: 14-15).

Penangguhan kematian iblis ini dimaksudkan agar ia leluasa dalam mengganggu dan menjerumuskan manusia dari jalan yang benar. Dalam al-Qur'an dikatakan, bahwa iblis akan senantiasa mengganggu dan menjerumuskan manusia dari berbagai lini, mulai dari depan, belakang, sisi kanan, kiri dan sebagainya. Ini artinya, kapanpun dan dimanapun, iblis dan setan akan terus mencari celah untuk dapat menggoda dan menjerumuskan manusia. Hal ini sebagaimana tertuang dalam firman Allah:

 "Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)" (QS. Al-Araf 7:16-17).

TARGET PERMUSUHAN JIN KAFIR (SETAN)

TARGET JANGKA PANJANG
Menjerumuskan manusia ke dalam api neraka, hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam surat Fatir ayat 6

 "Sesungguhnya  syaitan-syaitan  itu  hanya  mengajak  golongannya   supaya  mereka  menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala" (Fathir: 6).

TARGET JANGKA PENDEK

 1. Menjerumuskan manusia dalam perbuatan syirik dan kufur

 Syaithan senantiasa mengajak para hamba untuk menyembah selain Allah serta berusaha membuat mereka kufur kepada Allah dan syariatNya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam surat al-Hasyr ayat 16 berikut ini:

 "(Bujukan orang-orang  munafik itu adalah) seperti (bujukan) shaitan ketika dia berkata kepada manusia:  "Kafirlah kamu", maka tatkala manusia itu telah kafir,  maka ia berkata: "Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta Alam" (QS. Al-Hasyr:16).

Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa Rasulullah Saw suatu hari pernah berkhutbah:

 Artinya: "Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah memerintahkan saya untuk mengajarkan kepada kalian apa yang kalian belum ketahui yang pada hari ini Allah baru saja mengajarkannya kepada saya. Allah berfirman: "Seluruh  harta yang Aku karuniakan  kepada hamba adalah halal. Aku menciptakan hamba- hambaKu semuanya suci, bersih  dan lurus. Hanya saja, syaithan datang menggoda mereka. Syaithanlah yang memalingkan mereka dari agama mereka yang lurus, syaithan juga yang mengharamkan apa yang Aku halalkan  kepada mereka. Mereka juga menganjurkan dan  mengajak   para   hamba   untuk menyekutukanKu dengan sesuatu yang Aku sendiri belum menurunkan ilmu kepadanya" (HR. Muslim).

 2. Menjerumuskan manusia kepada perbuatan dosa dan durhaka

Dalam hal ini Rasulullah Saw bersabda:

"Rasulullah Saw bersabda: "Ingatlah, bahwasannya syaithan  sudah putus asa untuk disembah di negeri kalian ini. Akan tetapi kalian akan mentaatinya dalam perbuatan-perbuatan yang oleh kalian sendiri dipandang hina, dan syaithan akan meridhainya" (HR. Turmudzi dalam Shahih Sunannya).

Dalam hadits lain Rasulullah Saw juga bersabda:

"Jabir berkata, Rasulullah Saw bersabda: "Sesungguhnya syaithan telah putus asa untuk disembah oleh orang-orang yang shalat di daerah Arab, akan tetapi (syaithan akan diikuti) dalam hal memburu dan saling kasar di antar mereka" (HR. Muslim).

3. Menghalangi manusia untuk berbuat kebaikan

Bukan  hanya  menjerumuskan  manusia  ke  dalam  perbuatan  dosa  dan  durhaka,  syaithan  juga senantiasa menghalang-halangi manusia dari perbuatan baik dan taat. Dalam sebuah hadits dari Saburah bin Abi Fakih  bahwasannya ia mendengar Rasulullah Saw bersabda:

"Sesungguhnya syaithan selalu duduk (menggoda) keturunan Adam di semua sisi dan jalannya. Ia duduk di jalan Islam sambil berkata: "Kamu masuk Islam dan meninggalkan agamamu, agama bapak dan nenek moyangmu, mengapa?" Lalu hamba itu tidak menghiraukannya dan ia tetap masuk Islam.

Kemudian  syaithan  duduk  di  jalan  hijrah  sambil  berkata:  "Mengapa  kamu  berhijrah  segala sementara  kamu meninggalkan tanah air dan hartamu?" Hamba itu tidak mempedulikannya, dan ia pun tetap hijarah.

Kemudian syaithan duduk di jalan jihad sambil berakata: "Mengapa kamu hendak berjihad segala, padahal  dengan  demikian  kamu  akan  mengorbankan  harta  dan  nyawa  atau  kamu  akan  terbunuh. Mendingan  kamu  menikah  dengan  seorang  wanita,  lalu  berbagi  harta  dengannya?"  Hamba  tadi  tidak memperdulikannya, da ia pun tetap berjihad.

Rasulullah  bersabda  kembali:  "Barangsiapa  yang  melakukan  hal  demikian,  maka  Allah  berhak untuk memasukkannya ke dalam surga. Barang siapa yang terbunuh (dalam medan perang) atau tenggelam, maka Allah berhak untuk memasukkannya ke dalam surga" (HR. Nasai).

4. Merusak ketaatan

Apabila syaithan tidak dapat menggoda manusia untuk meninggalkan kebaikan dan taat, maka ia tetap akan  berusaha menggoda dan menjerumuskan manusia dengan cara merusak ketaatan dan kebaikan tersebut, agar si hamba  tidak mendapatkan pahala dari ketaatannya itu.  

Dalam sebuah hadits dikatakan, bahwa  Utsman  bin  al-Ash  pernah  datang  ke  pada  Rasulullah  Saw  sambil  berkata:  "Ya  Rasulullah, sesungguhnya syaithan telah menghalang-halangi antara saya dengan shalat dan membaca (al-Qur'an) saya, dengan cara berwujud dalam wujud Ali".

Mendengar  hal  itu  Rasulullah  Saw  bersabda:  "Syaithan  yang  mengganggu  kamu  itu  bernama Khinzib.  Apabila  kamu  merasakan  datangnya,  maka  berlindunglah  kepada  Allah  dari  godaannya  dan meludahlah  ke  sebelah  kiri  sebanyak  tiga  kali".  Utsman  berkata:  "Lalu  aku  melaksanakan  petunjuk Rasulullah Saw tadi, sehingga Allah mengusir syaithan itu dari saya" (HR. Muslim).

Apabila  seseorang  melaksanakan  shalat,  maka  syaithan  datang  membisikkan  dan  menggodanya dengan  cara, menyibukkan dengan berbagai hal, mengingat-ngingat urusan dunia, menghadirkan barang- barang yang hilang sampai membuat orang yang shalat itu ngantuk atau lalai. Dalam hadits riwayat Imam Bukhari dikatakan:

"Dari Abu  Hurairah,  bahwasannya Rasulullah  Saw bersabda: "Apabila dipanggil untuk shalat (adzan berkumandang), Syaithan segera membelakangi sambil kentut dengan keras sehingga orang itu tidak mendengar  adzan  tersebut. Apabila adzan telah selesai, ia  segera   menghampirinya. Apabila ia melaksanakan shalat, ia kembali membelakangi sambil membisikkan antara  seseorang dengan dirinya. Syaithan itu mengatakan: ingat ini, ingat itu, sehingga ia tidak tahu berapa rakaat dia  shalat" (HR. Bukhari Muslim).

Tidak sampai di sana, syaithan juga menggoda dengan jalan membisikkan kepada seseorang untuk lewat  dihadapan  orang  yang  sedang  shalat.  Dalam sebuah  hadits  riwayat  Imam Bukhari  dikatakan, bahwa  Shalih  as-Samman  pernah  melihat  Abu  Said  al-Khudry  pada  hari Jumat sedang melaksanakan shalat. Tiba-tiba seorang pemuda dari Bani Mu'ith bermaksud melewat di hadapan Abu Said yang sedang shalat. Abu Said kemudian menahan  dan menghalanginya. Pemuda itu kemudian menatap Abu Said, dan kembali mencoba melewatinya, akan tetapi Abu  Said kembali menghalanginya dengan lebih keras lagi. Pemuda  itu  kemudian  menghadap  kepada Marwan.  Marwan kemudian  bertanya  kepada  Abu  Said: "Mengapa  kamu  melakukan  hal  demikian  kepada  putra  saudaramu  ini,  wahai  Abu  Said?"  Abu  Said menjawab: Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda:

 "Apabila seseorang sedang shalat menghadapi sesuatu yang menghalanginya dari orang banyak, lalu seseorang berusaha untuk melewatinya, maka halangilah dia. Apabila ia menolak dan terus hendak melewatinya, maka perangilah dia karena dia itu adalah syaithan" (HR. Bukhari).

 5. Menyakiti anggota tubuh dan jiwa manusia

Di samping menggoda dan menjerumuskan dari ketaatan, syaithan juga seringkali menyakiti tubuh, anggota fisik dan jiwa manusia. Untuk lebih jelasnya akan hal ini, berikut dalil-dalil dan kisah-kisah yang membuktikan hal tersebut.

Dalam  sebuah  hadits  dikatakan  bahwa  Rasulullah  Saw  pernah  suatu  saat  ketika  sedang melaksanakan shalat, Iblis bermaksud melemparkan anak panah apinya  ke wajah Rasulullah Saw, akan tetapi Rasulullah kemudian berlindung kepada Allah sehingga Iblis tersebut dapat dilumpuhkan    sebagaimana   telah   dipaparkan   pada   pembahasan   tentang   kelemahan- kelemahan jin dan setan  pada sub, jin dan setan tunduk dan taat kepada Nabi Sulaiman.

Untuk menyakiti jiwa seseorang, syaithan juga datang dalam mimpi. Dalam berbagai keterangan dikatakan bahwa syaithan dapat datang menjelma dalam mimpi seseorang  dengan  cara  mengganggu  dan  menyempitkan  hatinya  sehingga  orang  tersebut menjadi sedih dan putus asa. Oleh karena itu, dalam sebuah hadits dikatakan, bahwa mimpi itu ada tiga macam: Artinya: 

Abu Hurairah  berkata:  "Mimpi  itu  ada  tiga  macam;  Mimpi  yang berupa kabar gembira yang bersumber dari Allah, mimpi yang merupakan bisikan hati, dan mimpi yang menakutkan yang bersumber dari syaithan"

(HR. Ibnu Majah). Dalam hadits lain dikatakan:

"Abu  Said   al-Khudri  pernah   mendengar  Rasulullah   Saw  bersabda:"Apabila seseorang  bermimpi yang menyenangkan, maka itu bersumber dari Allah, oleh karenanya bertahmidlah  (ucapkanlah  alhamdulillah),  dan  sebut-sebutlah  dia  di  hadapan  orang  lain. Apabila  ia  bermimpi  yang  menakutkan  atau  bermimpi  sesuatu  yang  dibenci,  maka  ia bersumber dari syaithan, karenanya berlindunglah kepada Allah dari kejahatannya (ucapkan audzubillah minasyaithan  wa  sayyiatil ahlam), dan janganlah  ia menyebut-nyebutkannya kepada  orang  lain.  Kalau  ia  berlindung  kepada  Allah  (mengucapkan  ta'udz  tadi),  maka syaithan itu tidak akan bisa menyakitinya" (HR. Bukhari).
   
Membakar rumah. Selain  menyakiti  tubuh  dan  jiwa,  syaithan  juga  seringkali  berbuat  jahat  berupa menghilangkan harta, kekayaan dan tempat tinggal, berupa membakar rumah.Dalam sebuah hadits dikatakan: Artinya: 

"Rasulullah  Saw  bersabda:  "Apabila kalian  tidur,  matikanlah  lampunya, karena syaithan  seringkali berwujud  seekor tikus yang membawa sesuatu (yang mudah dibakar) yang ditujukkan ke  lampu tersebut sehingga  dapat membakar kalian" (HR. Abu  Dawud dengan sanad shahih).
 
Mengganggu orang yang sedang sakaratul maut. Syaithan memang musuh yang paling nyata. Semua lini dan sisi, ia terus masuki dengan  tujuan dapat menjerumuskan manusia  ke  dalam kedurhakaan.  Bukan  saja ketika masih hidup, akan  tetapi ketika menjelang ajal sekalipun. Ketika manusia sakaratul maut, syaithan masih menggoda dan mengganggu           dengan jalan memukul-mukul dan membisikkan hal-hal keduniawian agar orang yang sedang  sakaratul  maut  tadi  tidak mengingat  Allah lagi. Oleh karena itu, Rasulullah menganjurkan agar orang yang sedang sakaratul  maut  ditalqin  (dibimbing  dengan  kalimat-kamimat  yang  baik) sehingga ketika nyawa dan ruhnya lepas, ia senantiasa mengingat kepada   Allah.Dalam   sebuah hadits dikatakan bahwa Rasulullah menganjurkan ummatnya untuk berlindung dari  godaan syaithan ketika sakaratul maut tadi dengan membaca doa berikut ini:

"Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari bimbangan, kehancuran,  tenggelam, kebakaran.  Aku juga berlindung kepadaMu dari godaan dan pukulan syaithan ketika   sakaratul  maut.  Aku  juga  berlindung  kepadaMu  dari  kematian  yang  lari  dari jalanMu, juga dari kematian yang sangat sakit menyengat" (HR.Nasai)

Menyakiti setiap bayi yang baru lahir. Selain  yang  sedang  sakaratul  maut,  syaithan  juga  seringkali  menyakiti  setiap bayi yang baru lahir. Dalam hadits dikatakan:

"Dari  Abu  Hurairah,  Rasulullah  Saw  bersabda:  "Setiap  keturunan  Adam,  pasti disentuh  oleh syaithan ketika lahirnya kecuali Siti Maryam dan putranya (Nabi Isa)" (HR. Muslim).  "Rasulullah  saw  bersabda:  "Setiap  keturunan  Adam  yang  lahir  pasti  dicubit oleh jari-jari syaithan di kedua pinggirnya kecuali Isa putranya Maryam" (HR. Bukhari). "Abu  Hurairah  berkata:  "Saya  pernah  mendengar  Rasulullah  Saw  bersabda: "Tidak  ada  seorangpun  bayi yang baru dilahirkan dari keturunan Adam, kecuali ia telah disentuh  (dicubit)  oleh  syaithan  sehingga  ia  lahir  sambil  berteriak  (menangis)  karena cubitan syaithan tersebut, kecuali Maryam dan putranya (Nabi Isa)" (HR. Bukhari).

Dalam hadits dikatakan, Siti Maryam dan putranya tidak terkena cubitan syaithan karena berkat doa dari ibunya, ibunya Siti Maryam, yang berdoa: "(Ibunya Maryam berdoa) dan aku   melindungkannya (Siti   Maryam)  dan keturunannya kepadaMu dari gangguan syaithan yang terkutuk" (QS. Ali Imaran: 36).

Apakah  hanya  Siti  Maryam  dan  putranya  yang  tidak  diganggu  oleh  syaithan ketika dilahirkan? Jawabannya tidak. Mungkin masih banyak lagi yang juga tidak diganggu oleh syaithan. Dalam hadits lain riwayat Imam Bukhari dikatakan, bahwa Ammar bin Yasir pun termasuk salah seorang yang tidak  diganggu dan tidak dicubit ketika ia dilahirkan.

Menebarkan penyakit Tha'un. Syaithan  juga  seringkali  menyebarkan  penyakit  menular  semisal  penyakit  kulit dan yang  lainnya. Akan tetapi hal ini tidak dapat dipahami bahwa semua wabah penyakit menular adalah  bersumber  dari  syaithan.  Boleh  jadi  karena  tempat  tersebut  kotor,  tidak bersih. Syaithan hanyalah  salah satu faktor penyebab hal itu. Dalam   sebuah   hadits Rasulullah bersabda: Rasulullah  Saw  bersabda: 

"Penyakit Tha'un dan Duri musuh-musuh kalian itu semuanya dari Jin. Ia (jin itu) menyaksikan kalian semua" (HR. Hakim). Bahkan, dalam salah satu keterangan juga dikatakan  bahwa  darah  istihadah  juga terkadang  dari syaithan. Rasulullah bersabda kepada Hamnah bint Jahsy: "Ini (darah istihadah) adalah kotoran syaithan" (HR. Abu Dawud dan Nasai). Akan tetapi sekali lagi, tidak  berarti bahwa setiap yang mengidap penyakit istihadah, itu bersumber dari syaithan, akan tetapi boleh jadi karena faktor makanan atau  hal lainnya. Hanya saja, syaithan juga terkadang menyakiti perempuan dengan jalan istihadah ini.

Ikut makan, minum dan tinggal bersama manusia. Termasuk salah satu menyakiti dan melukai manusia, syaithan juga seringkali ikut serta dengan manusia dalam makan, minum dan tinggal. Hal ini dimaksudkan tentunya agar syaithan lebih leluasa dalam menjerumuskan dan menggoda manusia ke jalan yang sesat Dalam berbagai keterangan dikatakan, ketika seseorang makan, minum dan masuk atau  keluar rumah tanpa menyebut  nama  Allah  (tanpa  berdoa),  maka  syaithan  akan mengikutinya; ia akan ikut makan, minum dan tidur di rumah. Akan tetapi bagi mereka yang menyebut nama Allah ketika makan, minum dan tidurnya, maka syaithan tidak akan pernah menyentuh makanan, minuman dan tempat tidur atau tempat tinggal orang tersebut.

Untuk itu, pantas, bila Rasulullah S.A.W senantiasa mengajarkan dan menganjurkan ummatnya untuk selalu membaca doa atau paling  tidak  menyebut  nama  Allah  dalam  setiap  gerak geriknya termasuk dalam makan, minum dan tidurnya.  Hal ini, bukan  saja untu  meraup pahala dan mengikuti sunnah Rasulullah Saw, akan tetapi juga demi kebaikan  orang tersebut,  yakni  terhindar  dari  gangguan  jin  kafir  (syaithan)  yang  setiap  detik  berusaha mengganggu dan menjerumuskan manusia dalam kenistaan.

Untuk lebih jelasnya, berikut adalah hadits-hadits yang menerangkan tentang hal di atas: 1) Syaithan akan ikut makan dan minum, ketika orang tersebut tidak mengucapkan doa atau  tidak  menyebut nama Allah terlebih dahulu.  Hal ini sebagaimana  dikisahkan dalam sebuah  hadits  ayng  diriwayatkan  oleh  Imam  Muslim,  bahwasannya  Hudzaifah  berkata:

"Kami (para sahabat) apabila berkumpul bersama Rasulullah Saw, lalu dihadirkan makanan kepadanya, kami tidak berani menyentuh makanan tersebut sebelum Rasulullah Saw terlebih dahulu menyentuhnya. Suatu hari,  dihidangkan kepada kami makanan tersebut. Tiba-tiba, datang seorang budak  perempuan yang  sudah  tidak sabaran. Begitu  melihat makanan di hadapan kami, ia langsung bergegas menghampirinya dan langsung menyodorkan tangannya untuk menyentuh  makanan  tersebut.  Rasulullah  Saw  kemudian  memegang  dan  menahan tangan budak wanita tadi. Tidak lama dari itu, datang juga seorang arab badewi, juga sama menyodorkan tangannya untuk meraih makanan, akan  tetap Rasulullah Saw menahan dan memegang tangannya itu. Rasulullah kemudian bersabda:

"Sesungguhnya syaithan akan ikut memakan makanan yang tidak disebutkan nama Allah sebelumnya. Syaithan barusan datang menyertai  budak  wanita  tadi,  lalu  syaithan  itu  bermaksud  mengambil  makanan  dengan menggunakan tangan budak wanita itu. Demikian juga, setan datang menyertai orang arab badewi  tadi untuk mengambil makanan,  dan  karena  itulah  saya  pegang  dan  saya  tahan tangan  kedua  orang  tadi.  Demi  diri Ku  yang berada  pada  kekuasaanNya,  sesungguhnya tangannya itu (tangan setan) berada pada tangan saya bersama dengan tangan budak wanita tadi" (HR. Muslim).

Setan akan merusak kekayaan manusia dan akan tinggal di dalam bejana / lemari yang  tidak  disebutkan  nama  Allah  sebelumnya.  Dalam  sebuah  hadits  dikatakan,  untuk menjaga agar setan tidak merusak harta dan tidak ikut masuk ke dalam rumah, sebaiknya ketika menutup pintu, lemari dan lainnya, terlebih dahulu berdoa atau paling tidak menyebut nama Allah. Dalam sebuah hadits dikatakan:

"Rasulullah Saw bersabda: "Tutuplah pintu-pintu, dan sebutlah nama Allah (ketika menutupnya), karena setan tidak akan membuka pintu yang sudah terkunci dengan menyebut nama Allah. Tutup jugalah tempat air minum (qirab dalam bahasa Arab adalah tempat menyimpan air  minum yang terbuat dari kulit binatang) dan bejana-bejana kalian (untuk masa sekarang  seperti  lemari, bupet, kulkas  dan  lainnya) sambil menyebut nama Allah, meskipun kalian hanya  menyimpan sesuatu di dalamnya dan (ketika hendak tidur), matikanlah lampu-lampu kalian" (HR. Muslim).

Orang yang makan dan minum sambil berdiri, akan ditemani setan. Dalam berbagai keterangan,  Rasulullah  menganjurkan  ummatnya  agar  ketika  makan  dan  minum  sambil duduk, tidak sambil berdiri. Kecuali ketika minum air zam zam, Rasulullah mensunatkan ummatnya  untuk  minum  sambil  berdiri,  karena  dalam  sebuah  hadits  dikatakan,  bahwa Rasulullah  minum  air  zam  zam  sambil  berdiri.  Rasulullah  melarang  ummatnya  untuk meminum atau makan sambil berdiri karena makan dan minumnya akan disertai oleh setan. Berikut ini hadits yang dimaksudkan:

"Rasulullah suatu hari melihat seorang laki-laki yang minum sambil berdiri. Lalu Rasulullah  Saw berkata kepadanya: "Duduklah!" Laki-laki itu menjawab: "Mengapa saya mesti  duduk?" Rasulullah  Saw menjawab: "Apakah kamu bahagia kalau minum bersama kucing?" Laki-laki itu menjawab: "Tidak". Rasulullah Saw bersbda kembali: "Sesungguhnya kamu tadi telah minum dengan sesuatu yang jauh lebih jahat dari pada  kucing, yaitu setan" (HR. Imam Ahmad, dan Bazzar).

Setan ikut masuk ke dalam rumah yang tidak menyebut nama Allah (berdoa) ketika masuknya. Dalam sebuah hadits dikatakan:

"Dari Jabir bin Abdillah bahwasannya ia mendengar Rasulullah Saw bersabda: "Apabila seseorang masuk rumah, lalu ia menyebut nama Allah ketika masuk (rumah) dan ketika  makan, maka syaithan akan berkata (kepada sesama syaithan lainnya): "Kalian tidak dapat nginep  dan tidak  bisa  makan malam". Namun apabila ia masuk rumah, dan tidak menyebut nama Allah (berdoa)  ketika masuk dan makannya, syaithan akan berkata: "Nah, sekarang kalian bisa nginep dan bisa makan malam" (HR. Muslim).

Masuk ke tubuh manusia. Selain  menyakiti  badan,  jiwa  dan  menyertai  manusia  dalam  segala  gerak  dan langkahnya, setan juga seringkali masuk ke tubuh manusia. Dalam istilah Indonesia sering disebut dengan Kesurupan, dan dalam bahasa Sunda dikenal dengan Kaasupan Jurig (dalam bahasa  arab  ashar'u atau  lams al-jin). Sehubungan  dengan  masalah  kesurupan  ini,  Ibnu Taimiyyah dalam  bukunya Majmu al-Fatawa(24/276),  berkata:

"Para ulama ahli sunnah wal jama'ah sepakat, bahwa  jin dapat masuk ke dalam tubuh dan badan manusia. Hal ini berdasarkan firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 275: "Orang-orang  yang  makan  (mengambil) riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang  yang kemasukan  setan  lantaran  tekanan penyakit  gila" (QS. Al-Baqarah:275)."

Abdullah  bin  Ahmad  bin  Hanbal  pernah  bertanya  kepada  ayahnya,  Ahmad  bin Hanbal:  "Sesungguhnya orang-orang  berkata  bahwa  jin tidak bisa masuk ke badan  orang- orang yang kesurupan. Imam Ahmad bin Hanbal berkata: "Anakku, mereka berkata bohong. Mereka hanya berkata dengan ucapannya sendiri" Ibnu  Taimiyyah  juga  berkata:  "Perkataan  ini  (jin  dapat  masuk  ke  dalam  tubuh manusia)   adalah   perkataan   yang   masyhur   (dikenal   oleh   semua   ulama).  

Orang yang kemasukkan jin (kesurupan)  tidak akan merasakan sakit ketika dipukul, kata-katanya akan ngelantur. Orang yang kemasukan jin ini akan menampakkan banyak keanehan, mulai  dari bicara  dan  gerakannya.  Seolah-olah  yang  berkata  dan  bergerak  itu  adalah orang tersebut (orang yang kesurupannya), padahal hakikatnya adalah jenis lain, bukan manusia (yaitu jin)".

Bahkan, Ibnu  Taymiyyah masih dalam al-Majmu'nya  mengatakan: "Tidak ada seorangpun ulama yagn  mengingkari  bahwa  jin  dapat  memasuki  tubuh  manusia  yang  lalai  mengingat Allah. Barangsiapa yang  mengingkari  hal ini dan mengatakan bahwa syara' tidak mengakui hal demikian, maka sungguh dia telah mendustai syara itu sendiri. Tidak ada dalam dalil-dalil syara yang menolak hal itu (tidak  ada  dalil satu pun  yang mengingakari bahwa  jin dapat masuk  ke  tubuh  manusia  yang  kesurupan).  Mereka  yang  mengingkari  hal  ini  hanyalah sekelompok kecil dari golongan Mu'tazilah yakni Imam Al-Jubai dan Abu Bakar ar-Razi.

Bersambung ke Bagian 7

-------

Baca Juga



Wednesday, December 17, 2014

MENGENAL JIN, SYAITAN DAN IBLIS [Bagian 5]

[ilustrasi]

KELEMAHAN-KELEMAHAN JIN

Meskipun jin dan setan memiliki kemampuan-kemampuan yang tidak dimiliki oleh manusia, akan tetapi al-Qur'an dengan tegas mengatakan bahwa hakikatnya setan dan tipu dayanya itu adalah lemah. Berikut adalah beberapa macam kelemahan jin , di antaranya:

1. Tidak bisa mengalahkan orang-orang saleh.
Bukti bahwa setan atau jin tidak akan dapat mengalahkan orang saleh adalah perkataan setan sendiri ketika berdialog dengan Allah dalam surat al-Hijr ayat 39-
Artinya: "Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka". (QS. Al- Hijr 15: 39-40).

Dari ayat ini dapat dipahami bahwa yang menyebabkan setan itu dapat menguasai seseorang adalah karena perbuatan dosanya. Ketika seseorang itu dekat dengan Allah, maka setan pun akan lari dan tidak akan pernah berani mendekatinya apalagi menguasainya.

2. Setan takut dan lari oleh sebagian hamba Allah
Apabila seseorang betul-betul memegang ajaran agamanya dengan benar serta menancapkan keimanannya dengan tangguh, maka setan pun akan takut dan lari. Hal ini misalnya terdapat pada diri Umar bin Khatab. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Turmu-dzi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda kepada Umar: "Sesungguhnya setan sangat takut olehmu wahai Umar" (HR. Turmudzi).

Bukan hanya kepada Umar, akan tetapi setan (jin kafir) juga akan takut oleh orang-orang beriman yang betul-betul dengan keimanannya. Dalam al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir pernah mengutip sebuah hadits berikut ini:

 "Sesungguhnya orang mukmin akan dapat mengendalikan (mengalahkan) syaithannya sebagaimana salah seorang dari kalian yang dapat mengendalikan untanya ketika bepergian" (HR. Ahmad).

Bahkan, apabila seseorang betul-betul dan terus menerus taat dan shaleh, ia dapat membawa qarinnya (penyertanya, karena setiap manusia itu pasti disertai oleh setan (jin kafir) di sebelah kirinya dan malaikat di sebelah kanannya atau sering disebut dengan qarin) masuk Islam. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim berikut ini:

 "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Tidak ada seorangpun kecuali ia disertai oleh seorang qarin (penyerta) dari jin dan seorang qarin (penyerta) dari malaikat". Para sahabat bertanya: "Apakah termasuk Anda juga wahai Rasulullah?" Rasulullah menjawab: "Ya termasuk saya, hanya saja Allah menolong saya sehingga jin itu masuk Islam. Ia (jin tadi) tidak pernah menyuruh saya kecuali untuk kebaikan" (HR. Muslim).

 3. Jin takluk dan taat kepada Nabi Sulaiman.
Di antara mukjizat Nabi Sulaiman adalah dapat menaklukan jin dan setan sehingga semuanya dapat bekerja atas perintahnya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam ayat al-Qur'an berikut ini dalam surat Shad ayat 36-38:

"Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakinya, dan (Kami tundukkan pula kepadanya) syaitan-syaitan semuanya ahli bangunan dan penyelam, dan syaitan yang lain yang terikat dalam belenggu" (QS. Shad ayat 36-38).

Mukjijat ini diberikan kepada Nabi Sulaiman sebagai pengabulan atas doanya yang mengatakan:

 "Dan berikanlah kepadaku kerajaan yang tidak diberikan kepada seseorang setalahku" (QS Shad 38:35).

Doa Nabi Sulaiman inilah yang menyebabkan Rasulullah tidak jadi untuk mengikat jin yang datang dengan melemparkan anak panah ke muka beliau. Dalam sebuah hadits Muslim dikatakan:

" Dari Abu Darda berkata : Suatu hari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bangun, tiba-tiba kami mendengar Rasulullah mengatakan: "Aku berlindung kepada Allah darimu", kemudian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam juga berkata: "Allah telah melaknatmu" sebanyak tiga kali. Rasulullah lalu menghamparkan tangannya seolah-olah beliau sedang menerima sesuatu. Ketika Rasulullah selesai shalat, kami bertanya: "Wahai Rasulullah, kami mendengar anda mengatakan sesuatu yang belum pernah kami dengar sebelumnya. Kami juga melihat anda membukakan kedua tangan anda". Rasulullah menjawab: "Barusan Iblis, musuh Allah datang membawa anak panah api untuk ditancapkan di muka saya, lalu aku berkata: "Aku berlindung kepada Allah darimu" sebanyak tiga kali, kemudian saya juga berakata: "Allah telah melaknatmu dengan laknat yang sempurna" sebanyak tiga kali. Kemudian saya bermaksud untuk mengambilnya. Seandainya saya tidak ingat doa saudara kami, Sulaiman, tentu saya akan mengikatnya sehingga menjadi mainan anak-anak penduduk Madinah" (HR. Muslim).

4. Jin atau setan tidak dapat menyerupai Rasulullah
Setan dan jin tidak dapat menyerupai bentuk dan muka Rasulullah Saw. Oleh karena itu, apabila seseorang bermimi melihat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, maka ia sungguh telah melihatnya. Dalam hadits shahih dikatakan:

 "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa yang bermimpi melihatku, maka dia sungguh telah melihatku, karena setan tidak dapat menyerupaiku" (HR. Muslim).

5. Jin dan setan tidak dapat melewati batas-batas tertentu di langit
Sekalipun jin dan setan mempunyai kelebihan dapat bergerak dengan cepat, akan tetapi mereka tidak akan dapat melewati batas-batas yang sudah ditetapkan yang tidak dapat dilalui selain oleh para malaikat. Karena apabila mereka berani melewatinya, maka mereka akan binasa dan hancur. Karena itu pula, jin tidak dapat mengetahui dan mencuri informasi dari langit sehingga apa yang dibisikkannya ke tukang-tukang ramal dan dukun adalah kebohongan semata. Untuk lebih jelasnya akan hal ini, dapat dilihat dalam surat al-Rahman ayat 33-35).

6. Jin tidak dapat membuka pintu yang sudah ditutup dengan menyebut nama Allah
Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
 "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Tutuplah pintu-pintu, dan sebutlah nama Allah (ketika menutupnya), karena setan tidak akan membuka pintu yang sudah terkunci dengan menyebut nama Allah. Tutup jugalah tempat air minum (qirab dalam bahasa Arab adalah tempat menyimpan air minum yang terbuat dari kuit binatang) dan bejana-bejana kalian (untuk masa sekarang seperti lemari, bupet, kulkas dan lainnya) sambil menyebut nama Allah, meskipun kalian hanya menyimpan sesuatu di dalamnya dan (ketika hendak tidur), matikanlah lampu-lampu kalian" (HR. Muslim).

KETAKUTAN JIN

Jin dan manusia memiliki perbedaan derajat. Manusia lebih tinggi derajatnya dari pada jin. Karena itulah sebenarnya jin sangat takut pada manusia. Namun karena jin berhasil menakut-nakuti manusia maka manusia menjadi takut pada jin. Sebagai seorang muslim seharusnya kita tidak boleh takut sama jin, tetapi kita pun tidak menangtang jin, namun jika jin mengganggu manusia sudah sewajarnya manusia untuk melawannya,

"Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman" (QS. Ali Imran 3:175).

 "Mujahid berkata: "Syaithan itu sebenarnya sangat takut oleh salah seorang dari kalian (manusia). Oleh karena itu, apabila kamu mendapatinya, janganlah takut karena kalau takut, ia akan menunggangi kalian (mengganggu), akan tetapi kerasi (kasarilah), pasti ia akan pergi". (Riwayat Ibn Abi Dunya)

 "Mujahid berkata: "Sesungguhnya setan dan jin kafir itu takut oleh kalian sebagaimana kalian takut oleh mereka" (Riwayat Ibnu Abi Dunya)

 "Imam Mujahid berkata: "Suatu malam ketika saya sedang melaksanakan shalat, tiba-tiba muncul makhluk sebesar anak laki-laki di hadapan saya. Lalu saya desak dia untuk ditangkap. Akan tetapi ia bangun dan lompat ke belakang dinding sehingga saya mendengar jatuhnya. Setelah itu, ia tidak penah datang lagi" (Riwayat Ibnu Abi Dunya).

TERTAWA DAN MENANGISNYA JIN

Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa setan akan tertawa ketika seseorang menguap dengan mengeluarkan suara misalnya; "euuuay" atau "haaaa". Hadits bahwa setan tertawa adalah:

"Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci nguap. Apabila seseorang bersin lalu mengucapkan al-hamdulillah, maka muslim yang mendengarnya harus mendoakannya. Adapun menguap datangnya dari setan, karenanya tahanlah sedapatmungkin. Apabila ia menguap terus keluar suara "haaa", maka setan akan tertawa" (HR. Bukhari dan lainnya).

Sementara setan akan menangis ketika seseorang membaca surat as-Sajdah dan ketika sampai pada ayatsajdahnya yakni ayat yang ke-15, ia melaksanakan Sujud Sajdah. Hal ini sebagaimana dikatakan dalam sebuah hadits

 "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Apabila anak Adam membaca surat as-Sajdah kemudian ia sujud sajdah (ketika membaca ayat sajdahnya ayat ke-15), maka setan akan pergi menangis sambil berkata: "Aduh celaka dan sialnya nasibku" Bani Adam diperintah sujud, maka kemudian dia sujud maka baginya syurga, sedangkan aku ketika diperintah sujud aku menolak maka bagiku neraka (HR. Muslim).

Bersambung ke Bagian 6

-------

Baca Juga



Thursday, December 11, 2014

MENGENAL JIN, SYAITAN DAN IBLIS [Bagian 4]

ilustrasi Jin
KEMATIAN JIN

Jin adalah mahluk yang berjiwa, maka sama saja halnya dengan manusia, jin pun akan mengalami kematian. Namun dari sebagian golongan jin hanya Iblis lah yang diberi tangguh kematiannya sampai hari manusia dibangkitkan. Sedangkan yang lainnya kematiannya sama dengan manusia tetapi usianya jauh lebih panjang dari umur manusia.

 "Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan" (QS. Ar-Rahman 55: 26-27).

Di samping ayat ini, ada hadits yang mengatakan bahwa jin atau syaithan juga akan mati. Hadits dimaksud adalah sebagai berikut:

 "Dari Ibnu Abbas, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Aku berlindung dengan kegagahanMu, yang tidak ada Tuhan selain Engkau, yang tidak akan mati, sementara jin dan manusia semuanya akan mati" (HR. Bukhari).

KEMAMPUAN DAN KELEBIHAN JIN

Allah memberikan kelebihan dan kemampuan khusus kepada jin yang tidak diberikan kepada manusia. Di antara kemampuan dan kelebihan jin tersebut adalah sebagai berikut:

1. Dapat bergerak dan berpindah dengan cepat
Artinya: "Berkata 'Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya".Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia" (QS.an-Naml: 39-40).

2. Dapat mengetahui masalah-masalah yang belum terjadi sebelum diutusnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.

Sebelum Rasulullah diutus, jin seringkali naik ke atas langit untuk mendengarkan kabar-kabar yang akan terjadi di dunia. Begitu mendengar kabar tersebut, mereka langsung menginformasikannya kepada para dukun dan tukang ramal. Oleh karena itu, sebelum Rasulullah Saw diutus, tukang ramal dan dukun seringkali tepat dalam memberikan jawaban dan ramalannya. Akan tetapi begitu Rasulullah Saw diutus, penjagaan di langit diperketat sehingga jin tidak lagi dapat mendengar informasi dan berita apapun. Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam surat al-Jin ayat 8-9:

Artinya: "Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang (Yang dimaksud dengan "sekarang", ialah waktu sesudah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam diutus menjadi rasul) barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya)" (QS. Al-Jin ayat 8 dan 9).

Oleh karena itu, sejak diutusnya Rasulullah sampai sekarang, jangankan dapat mendengar berita langit, mendekatinya saja tidak bisa. Untuk itu, apa yang dikatakan oleh para dukun dan tukang ramal, tidak pernah benar, tapi bohong belaka. Seandainya ada jin yang mengatakan bahwa akan terjadi nanti ini dan itu, maka ketahuilah bahwa dia telah berbohong. Oleh karena itu, dalam ajaran Islam, haram hukumnya seseorang datang bertanya kepada dukun dan tukang ramal. Karena bukan saja apa yang dikatakan tukang ramal itu bohong, tapi juga hal demikian akan melemahkan keimanan seseorang bahkan termasuk perbuatan syirik.

Bagaimana dengan kenyataan, bahwa terkadang ramalan dan ucapan tukang ramal tersebut betul dan nyata? Hal ini pernah disampaikan juga oleh Siti Aisyah kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Perhatikan hadits berikut ini:

 "Aisyah berkata, sekelompok orang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tentang para dukun. Rasulullah menajawab: "Mereka itu tidak mengetahui sesuatu apapun". Mereka bertanya kembali: "Tapi Rasulullah, terkadang apa yang mereka katakan adalah benar dan nyata?" Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda kembali: "Ucapannya yang betul itu lantaran dibisikkan oleh jin. Ia membisikkannya ke telinga temannya (dukun) seperti berkoteknya ayam betina, dan mereka mencampuradukannya dengan seratus kebohongan (maksudnya, yang betulnya satu tapi bohongnya seratus bahkan lebih)" (HR. Bukhari).

Oleh karena itu, dalam ajaran Islam, seseorang dilarang untuk terlebih mempercayai perkataan dukun, datangnya saja sudah berdosa. Rasulullah bersabda :

 "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa yang datang kepada juru ramal, dukun, lalu bertanya tentang sesuatu, maka shalatnya tidak akan diterima selama 40 malam " (HR. Muslim)

  " Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa yang datang kepada juru ramal, dukun, untuk bertanya tentang sesuatu, lalu membenarkan dan mempercayai apa yang dikatakannnya, maka sungguh ia telah keluar dari ajaran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad" (HR. Ahmad).

Bukti lain bahwa jin tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui perkara yang gaib sebagaimana terlukis dalam surat al-saba 34:14

 "Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan" (QS. Saba 34: 14).

3. Jin lebih dahulu mengetahui teknologi
Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa Allah menundukkan golongan jin kepada Nabi Sulaiman. Mereka taat dan patuh kepadanya termasuk bersedia untuk memindahkan singgasana kerajaan Ratu Bilqis. Karena kerja mereka yang berat dan banyak, tentu mereka memerlukan kemampuan- kemampuan dan kecerdasan dan kemahiran luar biasa. Hal ini sebagaimana terekam dalam firman Allah surat Saba ayat 12-13:

 "Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring- piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih" (QS. Saba 34: 12-13).

Berdasarkan dari ayat di Atas, Umar Sulaiman Abdullah bin al-Asyqar dalam bukunya Alamul Jinn was Syayathin, berpendapat bahwa sejak dahulu jin sudah mengenal tekhnologi canggih semisal radio dan televisi. Bahkan, Ibnu Taimiyyah sendiri dalam al-Majmu'nya mengatakan bahwa "Menurut sebagian ulama yang dapat berkomunikasi dengan jin menuturkan bahwa sejak dahulu jin sudah dapat membuat kawat dan kaca, kemudian mereka sampaikan kepada manusia dan manusia mengikutinya" (lihat dalamMajmu al-Fatawa karya Ibnu Taimiyyah: 11/309).

4. Jin dapat berubah-rubah bentuk
Di antara kemampuan jin (setan) lainnya adalah mereka dapat berubah wujud; terkadang berwujud manusia dan terkadang pula berwujud hewan. Hal ini telah terjadi pada masa perang Badar, dimana setan (jin kafir) berwujud dalam bentuk Suraqah bin Malik, dan ia menjanjikan kepada orang-orang musyrik bahwa mereka akan dapat memengkan pertempuran melawan orang Islam. Akan tetapi ketika pertempuran telah terjadi dan malaikat turun dari langit untuk membantu kaum muslimin, syaitan yang menjelma dalam wujud Suraqah bin Malik tadi lari tunggang langgang. Hal ini terekam dalam al-Qur'an surat al-Anfal ayat 48:

Selain dalam wujud manusia, jin (setan) juga dapat berwujud dalam bentuk hewan dan binatang seperti unta, anjing, keledai, ular, sapi atau kucing. Akan tetapi dari sekian banyak binatang, yang paling sering dipakai oleh jin adalah dalam bentuk anjing dan kucing hitam.

Dalam hal ini RasululullahShallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

 "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Anjing hitam adalah setan" (HR. Muslim).

Dalam hal ini, Ibnu Taimiyyah juga bertutur: "Anjing hitam adalah setannya anjing. Dan jin seringkali berwujud dalam wujud anjing hitam ini. Demikian juga dengan kucing hitam. Hal ini dikarenakan warna hitam adalah warna yang paling disukai oleh setan karena mengandung kehangatan."

Sedangkan wujud yang umum jin yang mendiami rumah adalah ular . Dalam hadits riwayat Imam Muslim, Rasulullah Saw mengingatkan agar tidak sembarangan membunuh ular yang didapati di dalam rumah, karena boleh jadi ular tersebut bukan ular sesungguhnya akan tetapi ular jelmaan dari jin. Dalam sebuah hadits dikatakan, bahwa apabila mendapatkan ular di dalam rumah, maka biarkan selam tiga hari. Apabila dalam waktu tiga hari masih ada, maka bunuhlah karena dia ular biasa, bukan ular jelmaan jin. Hadits dimaksud adalah sebagai berikut:

 "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya di Madinah ada seorang jin yang sudah masuk Islam. Apabila kalian melihat sesuatu (maksudnya binatang atau sejenisnya) maka biarkanlah (jangan dibunuh) selama tiga hari. Apabila setalah hari masih ada dan nampak, maka bunuhlah karena dia itu adalah syaithan" (HR. Muslim).
 Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Ular-ular itu adalah jin yang mengubah rupa dan bentuknya sebagaimana Bani Israil yang berubah bentuk menjadi rupa monyet dan babi" (HR. Thabrany dengan sanad yang sahih).

Bersambung ke Bagian 5

-------

Baca Juga