Showing posts with label Kebatinan. Show all posts
Showing posts with label Kebatinan. Show all posts

Friday, January 9, 2015

MENGENAL JIN, SYAITAN DAN IBLIS [Bagian 7]

[ilustrasi]

KIAT-KIAT MENGHADAPI GANGGUAN JIN

Sebagaimana  telah  dijelaskan  di  atas,  bahwa  jin (setan)  senantiasa  mengganggu  dan  "menyerang" manusia  khususnya orang mukmin dari berbagai sisi dan dalam berbagai keadaan. Untuk itu, agar usaha mereka tidak  berhasil  dan dapat dipatahkan, maka seorang mukmin harus mempunyai "senjata" khusus dalam menghadapi  mereka.  Di  antara "senjata"  yang harus  dipegang seorang  mukmin dalam melawan "serangan" setan ini, adalah sebagai berikut:

1. BERLINDUNG DAN MEMOHON BANTUAN HANYA KEPADA ALLAH SWT
Mengenai "senjata" ini, Allah telah berfirman dalam surat al-A'raf ayat 199-200:
Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari  pada   orang-orang   yang  bodoh.  Dan  jika  kamu  ditimpa  sesuatu  godaan  syaitan  maka berlindunglah kepada  Allah .Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" (QS. Al-Araf: 199-200).

Adapun keadan atau situasi yang memungkinkan adanya gangguan jin adalah sebagai berikut;

    KETIKA MASUK WC

Rasulullah Saw menganjurkan agar setiap kali masuk ke WC, terlebih dahulu membaca doa sebagai   permohonan  perlindungan  kepada  Allah  dari  gangguan  setan  laki-laki  dan  setan perempuan. Hal ini sebagaimana tertuang dalam hadits berikut ini:
"Dari Zaid bin Arqam, Rasulullah Saw bersabda: "Sesungguhnya toilet-toilet itu dihuni oleh Jin.  Oleh  karena  itu,  apabila  seseorang  di antara  kalian masuk WC,  maka katakanlah: Allahumma Inni  audzubika minal khubutsi wal khabaits (Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari gangguan  jin  laki-laki  dan  jin  perempuan"  (HR.  Abu  Dawud,  Nasa'I,  Ibnu  Majah  dan Ahmad).

     KETIKA MARAH

Ketika seseorang marah, maka setan akan dengan mudah masuk dan menggodanya. Oleh karena itu, Rasulullah Saw mengajarkan bahwa ketika seseorang marah, hendaklah ia membaca ta'udz; audzubillahi minasyaithanir rajim. Hal ini sebagaimana dikatakan dalam sebuah hadits berikut ini:
"Dari  Sulaiman  bin  Shurad  berkata:  "Ada  dua  orang  saling  memaki  di  hadapan Rasulullah, saat itu kami sedang duduk di sampingnya. Salah seorang dari keduanya memaki temannya  dengan  sangat  marah  sehingga  tampak  mukanya  memar  merah.  Rasulullah  Saw kemudian bersabda:  "Sesungguhnya saya mengetahui sebuah kalimat yang apabila diucapkan, maka marah kalian akan  hilang, yaitu: Audzu billah minas syaithanir rajim (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk)" (HR. Bukhari Muslim).

    KETIKA BERHUBUNGAN BADAN SUAMI ISTRI

Rasulullah Saw juga menganjurkan agar sebelum melaksanakan hubungan badan, terlebih dahulu berdoa dan berlindung kepada Allah dari godaan setan. Dalam sebuah hadits dikatakan:
"Rasulullah  Saw  bersabda:  "Apabila  salah  seorang  dari  kalian  hendak  menggauli isterinya kemudian sebelum menggaulinya ia membaca doa: "Bismillah, allahumma jannibnaas syaithan  wa  jannibis  syaithana  ma  razaqtana"  (Dengan  menyebut  nama  Allah,  ya  Allah jauhkanlah kami dari gangguan dan godaan setan serta jauhkanlah setan itu dari apa yang akan Eukau  anugerahkan  kepada  kami  (anak),  maka  apabila  dari  hubungan  tersebut  ditakdirkan membuahkan seorang anak, maka anak  itu tidak akan diganggu  oleh setan selamanya" (HR. Muttafaq 'alaih).

    KETIKA TURUN DARI LEMBAH ATAU DARI RUMAH

Rasulullah  Saw mengajarkan bahwa apabila  seseorang  keluar dari rumah, atau melewati lembah, tempat angker hendaklah membaca doa sebagaimana tercantum dalam hadits berikut:
"Rasulullah Saw bersabda: "Kalau saja seseorang di antara kalian keluar rumah lalu berdoa:  Audzu bikalimatillahit tammati min syarri ma khalaq (Aku berlindung kepada Allah dengan  perantaraan kalimah Allah yang sempurna dari kejahatan makhluknya), maka ia tidak akan diganggu sedikitpun sejak ia berada di rumah itu sampai ia meninggalkannya" (HR. Ibnu Majah dengan sanad yang shahih).

    KETIKA MENDENGAN RINGKIKAN KELEDAI

Dalam hal ini Rasulullah bersabda:
"Abu Hurairah berkata, Rasulullah Saw bersabda:  "Apabila kalian mendengar ayam jantan berkukuruyuh (kongkorongok), maka mintalah karunia dari Allah, karena sesungguhnya ayam  itu  melihat  malaikat.  Dan  apabila  kalian  mendengar  ringkikan  keledai,  berlindunglah kepada Allah dari godaan dan tipu daya syaithan karena keledai itu telah melihat syaithan". (HR. Bukhari Muslim).

    KETIKA HENDAK MEMBACA AL-QUR'AN

Allah berfirman dalam surat an-Nahl ayat 98-99:
"Apabila kamu membaca Al-Qur`an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang- orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya" (QS. An-Nahl: 98-99).

2. MEMOHON PERLINDUNGAN ALLAH ATAS KELUARGA DAN SELURUH KETURUNAN
Dalam sebuah hadits dikatakan:
"Ibnu Abbas berkata: Rasulullah Saw pernah memohonkan perlindungan untuk Hasan dan Husain  (cucu beliau) dengan mengatakan: U'idzukuma bikalimatillahit tammah min kulli syaithan wa hammah wa min kulli 'ainin laammah (Aku memohon perlindungan untuk kamu berdua dengan perantaraan kalimah Allah yang sempurna dari semua kejahatan setan dan semua hawa nafsu, juga dari  semua  kejahatan  mata  yang  penuh  dengki)".  Rasulullah  Saw  kemudian  bersabda  kembali: "Sesungguhnya nenek moyang kalian berdua (maksudnya Nabi Ibrahim) juga pernah memohonkan perlindungan untuk kedua putranya Ismail dan Ishak" (HR. Bukhari).

3. SENANTIASA BERDZIKIR KEPADA ALLAH SWT
Hal ini sebagaimana disebutkan  dalam sebuah hadits, bahwa Nabi Yahya memerintahkan Bani Israil untuk melakukan lima hal. Salah satunya adalah dzikrullah, karena seseorang tidak dapat menjaga dirinya dari godaan setan, melainkan dengan dzikir kepada Allah (mengingat Allah).

Dalam al-Qur'an surat al-Araf ayat 201 Allah berfirman:
"Sesungguhnya  orang-orang  yang bertakwa  bila mereka ditimpa was-was dari  syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya" (QS. Al- Araf: 201)

- - - SELESAI - - -

-------

Baca Juga



Thursday, December 11, 2014

MENGENAL JIN, SYAITAN DAN IBLIS [Bagian 4]

ilustrasi Jin
KEMATIAN JIN

Jin adalah mahluk yang berjiwa, maka sama saja halnya dengan manusia, jin pun akan mengalami kematian. Namun dari sebagian golongan jin hanya Iblis lah yang diberi tangguh kematiannya sampai hari manusia dibangkitkan. Sedangkan yang lainnya kematiannya sama dengan manusia tetapi usianya jauh lebih panjang dari umur manusia.

 "Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan" (QS. Ar-Rahman 55: 26-27).

Di samping ayat ini, ada hadits yang mengatakan bahwa jin atau syaithan juga akan mati. Hadits dimaksud adalah sebagai berikut:

 "Dari Ibnu Abbas, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Aku berlindung dengan kegagahanMu, yang tidak ada Tuhan selain Engkau, yang tidak akan mati, sementara jin dan manusia semuanya akan mati" (HR. Bukhari).

KEMAMPUAN DAN KELEBIHAN JIN

Allah memberikan kelebihan dan kemampuan khusus kepada jin yang tidak diberikan kepada manusia. Di antara kemampuan dan kelebihan jin tersebut adalah sebagai berikut:

1. Dapat bergerak dan berpindah dengan cepat
Artinya: "Berkata 'Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya".Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia" (QS.an-Naml: 39-40).

2. Dapat mengetahui masalah-masalah yang belum terjadi sebelum diutusnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.

Sebelum Rasulullah diutus, jin seringkali naik ke atas langit untuk mendengarkan kabar-kabar yang akan terjadi di dunia. Begitu mendengar kabar tersebut, mereka langsung menginformasikannya kepada para dukun dan tukang ramal. Oleh karena itu, sebelum Rasulullah Saw diutus, tukang ramal dan dukun seringkali tepat dalam memberikan jawaban dan ramalannya. Akan tetapi begitu Rasulullah Saw diutus, penjagaan di langit diperketat sehingga jin tidak lagi dapat mendengar informasi dan berita apapun. Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam surat al-Jin ayat 8-9:

Artinya: "Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang (Yang dimaksud dengan "sekarang", ialah waktu sesudah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam diutus menjadi rasul) barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya)" (QS. Al-Jin ayat 8 dan 9).

Oleh karena itu, sejak diutusnya Rasulullah sampai sekarang, jangankan dapat mendengar berita langit, mendekatinya saja tidak bisa. Untuk itu, apa yang dikatakan oleh para dukun dan tukang ramal, tidak pernah benar, tapi bohong belaka. Seandainya ada jin yang mengatakan bahwa akan terjadi nanti ini dan itu, maka ketahuilah bahwa dia telah berbohong. Oleh karena itu, dalam ajaran Islam, haram hukumnya seseorang datang bertanya kepada dukun dan tukang ramal. Karena bukan saja apa yang dikatakan tukang ramal itu bohong, tapi juga hal demikian akan melemahkan keimanan seseorang bahkan termasuk perbuatan syirik.

Bagaimana dengan kenyataan, bahwa terkadang ramalan dan ucapan tukang ramal tersebut betul dan nyata? Hal ini pernah disampaikan juga oleh Siti Aisyah kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Perhatikan hadits berikut ini:

 "Aisyah berkata, sekelompok orang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tentang para dukun. Rasulullah menajawab: "Mereka itu tidak mengetahui sesuatu apapun". Mereka bertanya kembali: "Tapi Rasulullah, terkadang apa yang mereka katakan adalah benar dan nyata?" Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda kembali: "Ucapannya yang betul itu lantaran dibisikkan oleh jin. Ia membisikkannya ke telinga temannya (dukun) seperti berkoteknya ayam betina, dan mereka mencampuradukannya dengan seratus kebohongan (maksudnya, yang betulnya satu tapi bohongnya seratus bahkan lebih)" (HR. Bukhari).

Oleh karena itu, dalam ajaran Islam, seseorang dilarang untuk terlebih mempercayai perkataan dukun, datangnya saja sudah berdosa. Rasulullah bersabda :

 "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa yang datang kepada juru ramal, dukun, lalu bertanya tentang sesuatu, maka shalatnya tidak akan diterima selama 40 malam " (HR. Muslim)

  " Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa yang datang kepada juru ramal, dukun, untuk bertanya tentang sesuatu, lalu membenarkan dan mempercayai apa yang dikatakannnya, maka sungguh ia telah keluar dari ajaran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad" (HR. Ahmad).

Bukti lain bahwa jin tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui perkara yang gaib sebagaimana terlukis dalam surat al-saba 34:14

 "Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan" (QS. Saba 34: 14).

3. Jin lebih dahulu mengetahui teknologi
Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa Allah menundukkan golongan jin kepada Nabi Sulaiman. Mereka taat dan patuh kepadanya termasuk bersedia untuk memindahkan singgasana kerajaan Ratu Bilqis. Karena kerja mereka yang berat dan banyak, tentu mereka memerlukan kemampuan- kemampuan dan kecerdasan dan kemahiran luar biasa. Hal ini sebagaimana terekam dalam firman Allah surat Saba ayat 12-13:

 "Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring- piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih" (QS. Saba 34: 12-13).

Berdasarkan dari ayat di Atas, Umar Sulaiman Abdullah bin al-Asyqar dalam bukunya Alamul Jinn was Syayathin, berpendapat bahwa sejak dahulu jin sudah mengenal tekhnologi canggih semisal radio dan televisi. Bahkan, Ibnu Taimiyyah sendiri dalam al-Majmu'nya mengatakan bahwa "Menurut sebagian ulama yang dapat berkomunikasi dengan jin menuturkan bahwa sejak dahulu jin sudah dapat membuat kawat dan kaca, kemudian mereka sampaikan kepada manusia dan manusia mengikutinya" (lihat dalamMajmu al-Fatawa karya Ibnu Taimiyyah: 11/309).

4. Jin dapat berubah-rubah bentuk
Di antara kemampuan jin (setan) lainnya adalah mereka dapat berubah wujud; terkadang berwujud manusia dan terkadang pula berwujud hewan. Hal ini telah terjadi pada masa perang Badar, dimana setan (jin kafir) berwujud dalam bentuk Suraqah bin Malik, dan ia menjanjikan kepada orang-orang musyrik bahwa mereka akan dapat memengkan pertempuran melawan orang Islam. Akan tetapi ketika pertempuran telah terjadi dan malaikat turun dari langit untuk membantu kaum muslimin, syaitan yang menjelma dalam wujud Suraqah bin Malik tadi lari tunggang langgang. Hal ini terekam dalam al-Qur'an surat al-Anfal ayat 48:

Selain dalam wujud manusia, jin (setan) juga dapat berwujud dalam bentuk hewan dan binatang seperti unta, anjing, keledai, ular, sapi atau kucing. Akan tetapi dari sekian banyak binatang, yang paling sering dipakai oleh jin adalah dalam bentuk anjing dan kucing hitam.

Dalam hal ini RasululullahShallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

 "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Anjing hitam adalah setan" (HR. Muslim).

Dalam hal ini, Ibnu Taimiyyah juga bertutur: "Anjing hitam adalah setannya anjing. Dan jin seringkali berwujud dalam wujud anjing hitam ini. Demikian juga dengan kucing hitam. Hal ini dikarenakan warna hitam adalah warna yang paling disukai oleh setan karena mengandung kehangatan."

Sedangkan wujud yang umum jin yang mendiami rumah adalah ular . Dalam hadits riwayat Imam Muslim, Rasulullah Saw mengingatkan agar tidak sembarangan membunuh ular yang didapati di dalam rumah, karena boleh jadi ular tersebut bukan ular sesungguhnya akan tetapi ular jelmaan dari jin. Dalam sebuah hadits dikatakan, bahwa apabila mendapatkan ular di dalam rumah, maka biarkan selam tiga hari. Apabila dalam waktu tiga hari masih ada, maka bunuhlah karena dia ular biasa, bukan ular jelmaan jin. Hadits dimaksud adalah sebagai berikut:

 "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya di Madinah ada seorang jin yang sudah masuk Islam. Apabila kalian melihat sesuatu (maksudnya binatang atau sejenisnya) maka biarkanlah (jangan dibunuh) selama tiga hari. Apabila setalah hari masih ada dan nampak, maka bunuhlah karena dia itu adalah syaithan" (HR. Muslim).
 Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Ular-ular itu adalah jin yang mengubah rupa dan bentuknya sebagaimana Bani Israil yang berubah bentuk menjadi rupa monyet dan babi" (HR. Thabrany dengan sanad yang sahih).

Bersambung ke Bagian 5

-------

Baca Juga



Wednesday, October 29, 2014

"BERTAPA" DI PANIIS SINGKUP

riang di Paniis Singkup
Dalam bahasa Sunda Paniis berarti pendingin dan singkup berarti alat atau peralatan. Lalu seperti apa paniis singkup itu. Paniis Singkup adalah kawasan wisata yang secara administratif berada di dalam wilayah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, meskipun begitu bila kita dari arah Jakarta melalui jalur pantura, lokasi wisata ini lebih mudah dicapai dari pusat kota Cirebon.

Sesuai dengan namanya kawasan wisata ini memang lumayan sejuk. Wisata andalannya adalah wisata sungai yang bersumber dari Gunung Ciremai. Sebagaimana sungai yang bersumber dari gunung, air sungai di Paniis singkup inipun jernih, bening dan tentu saja terasa sejuk dan menyejukkan.

Dikawasan in juga tersedia kamping ground, kolam renang yang bersumber dari sungai yang sama dan tentu saja kawasan sungai terbuka tempat para pengunjung berbasah basah ria di alam terbuka. Perusahaan daerah air minum setempat juga membangun penampung air baku di tempat ini dan tentunya tak perlu repot repot untuk melakukan penjernihan.

Kabar angin menyebutkan bahwa air sungai di Paniis Singkup ini dapat membuat awet muda bagi siapa saja yang mandi disana. Benarkah begitu ? satu hal yang pasti bahwa mandi adalah salah satu prosesi penyucian raga, bagian dari proses menjaga kebersihan diri, sesuatu yang sangat ditekankan syariat agama.

Ramai pengunjung di hari libur, baik oleh rombongan berseragam sekolah, muda mudi, hingga keluarga yang sengaja datang berlibur ke tempat ini. Tempat parkir nya cukup memadai, warung makan berjejer di sekitar lokasi dengan harga yang cukup wajar.

MENYEJUKKAN HATI DI PANIIS SINGKUP

Paniis Singkup dapat dicapai dari Matangaji (baca posting sebelumnya) dengan waktu tempuh sekitar 20-30 menit. Perjalanan dimulai dari Matangaji karena (dimasa lalu) kedua tempat ini memang memiliki keterkaitan satu dengan lainnnya. Menjejakinya dari Matangaji seolah merunut rangkaian perjalanan sejarah Cirebon dan dakwah di Jawa Barat.

Di Paniis Singkup memang tak ada bangunan bersejarah dari masa lalu yang dapat di identifikasi sebagai peninggalan sejarah. Butuh ‘radar’ bersinyal kuat untuk sekedar menemukan serpihan masa lalu yang terserak di bentara alam di lokasi wisata ini. dan tentu saja butuh sumber sejarah untuk merangkainya menjadi sesuatu.

Fatahillah atau Fadhilah Khan atau Tubagus Pasai atau Kyai Bagus Pase atau Falatehan,  Laksanama Kesultanan Demak, di utus oleh sultan Demak untuk membawa pasukan perang-nya bergabung dengan pasukan Cirebon dalam misi penaklukan Portugis di Sunda Kelapa.

Di Cirebon beliau ditunjuk oleh Syarif Hidatullah (Sunan Gunung Jati) untuk memimpin pasukan gabungan tersebut membebaskan Sunda Kelapa dari Jajahan Portugis, Maulana Hasanudin (Putra Syarif Hidayullah) dari Banten turut membantu penyerbuan itu, Fatahillah berjaya menaklukkan Sunda Kelapa dan mengubah nama bandar itu menjadi Jayakarta (Kota Kejayaan).

Paska kemenangan itu Fatahillah menjadi Penguasa pertama di Jayakarta, Banten melepaskan diri dari pengaruh Padjajaran lalu membentuk kesultanan, dan Maulana Hasanudin dinobatkan menjadi Sultan pertama. Dikemudian hari kota yang ditaklukkan oleh Fatahillah itu berubah menjadi Jakarta, Ibukota Republik Indonesia dan hari penaklukkan itu diperingati sebagai hari jadi kota Jakarta.

Fatahillah kemudian memilih kembali ke Cirebon dan menyerahkan kendali pemerintahan Jayakarta kepada Tubagus Angke. Di Cirebon beliau malah diserahi tugas sebagai pemangku jabatan Sultan Cirebon oleh Syarif Hidayullah yang ingin melanjutkan dakwah Islam tanpa terbebani oleh Jabatan Politik sebagai Sultan Cirebon. Kala itu putra mahkota masih teramat belia untuk diangkat menjadi Sultan.

Catatan sejarah tak menyebutkan dengan jelas perjalanan Syarif Hidayatullah dalam misi dakwah tersebut. Meski demikian dari rangkaian peristiwa awal mula dakwah beliau di Cirebon hingga berdirinya kesultanan, terbaca dengan jelas bahwa beliau tidak hanya menaklukan hati rakyat disana tapi juga menaklukkan mahluk lain yang tak sudi Islam berkembang di Cirebon.

Sejarah masjid Sang Cipta Rasa yang merupakan masjid kesultanan menyebutkan dengan jelas bahwa masjid tersebut pernah mengalami kebakaran hebat akibat serangan dari Menjangan Wulung yang bertengger di mastaka masjid dan menghajar siapapun yang akan masuk kesana.

Sampai kemudian Syarif Hidayatullah memerintahkan tujuh orang muridnya untuk mengumandangkan azan tujuh kali secara bersamaan untuk mengalahkan si Menjangan Wulung. Tradisi itu di teruskan di Masjid Sang Cipta Rasa hingga kini sebagai Azan Pitu. Siapa menjangan wulung itu?. Pastinya dia bukan dari golongan yang sejalan dengan dakwah yang dibawa oleh Syarif Hidayatullah.

Syarif Hidayatullah dikaruniai umur yang panjang oleh Allah S.W.T dalam kondisi kesehatan yang prima (semoga kitapun demikian, amin) jejak beliau tersebar dimana mana baik yang masih dapat dilihat dengan jelas maupun yang hanya tersisa cerita tutur. Perjalanannya di Matangaji sudah disinggung di tulisan terdahulu.

Di Paniis Singkup, sebuah tempat peristirahatan didirikan. Tujuh orang murid senantiasa menyertai. Mengikuti semua tauziah dari beliau. Menikmati kucuran ilmu di heningnya alam, khusuk mendengarkan kajian, bersila di atas batu yang membentang dalam udara yang sejuk diantara gemericik air.

Ada sebilah keris yang selalu terselip di balik jubahnya. Sang Hyang Nogo. Bukan untuk bertarung, bukan untuk perlindungan diri. Keris adalah pengingat bagi pemiliknya untuk senantiasa tawadhu, senantiasa merendahkan diri dihadapan yang maha kuasa, tidak menyombongkan diri apalagi membanga banggakan diri, tidak memamer mamerkan kepandaian, kekayaan, kekuasaan dan kelebihan, sesungguhnya keris mengingatkan pemiliknya untuk senantiasa berserah diri kepada Allah S.W.T.

Pasedan, tombak panjang yang turut menemani. Bukan tombak untuk menyerbu, bukan tombak untuk menyerang. Tombak hanyalah batangan yang lurus. Tegak seperti Alif. Aksara pertama yang diajarkan kepada kanjeng Rosul, aksara pembuka semua ilmu, aksara pertama untuk menuliskan nama Tuhan yang serba maha. Tegas berdiri sebagai pembeda dan pemisah antara baik dan buruk, halal dan haram, hak dan bathil, iman dan ingkar. 

Tauhid adalah Keris dan tombak yang sesungguhnya. Di Matangaji dan di Paniis Singkup yang menyejukkan jiwa, beliau berpesan satu kalimat “LAA ILA HA ILLALLAH”.

MERUNUT HIKAYAT DI MATANGAJI

Matangaji

Matangaji adalah gelar yang melekat kepada Sultan Sepuh Shafiudin, Sultan Cirebon yang berkuasa di keraton Kasepuhan tahun 1773-1786. Beliau merupakan sultan ke-5 yang berkuasa di Kraton kasepuhan setelah kesultanan Cirebon dipecah menjadi tiga di tahun 1667 yakni Kraton Kasepuhan, Kraton Kanoman dan yang ketiga adalah Panebahan Cirebon yang tidak memiliki keraton ataupun daerah kekuasaan.

Matangaji juga merupakan nama sebuah desa di kecamatan Sumber di Kabupaten Cirebon. Sultan Shafiudin Matangaji dan Desa Matangaji memang memiliki keterkaitan sejarah yang sangat erat. Cerita tutur menyebutkan bahwa desa Matangaji memang merupakan basis dakwah Sultan Shafiudin. 

Kesultanan Cirebon dan VOC (Belanda) menandatangai perjanjian kerjasama perdagangan pada tanggal 7 Januari 1681 dan sejak itu VOC senantiasa melakukan tekanan politik kepada Cirebon untuk mendapatkan keuntungan sebesar besarnya. Dapat difahami bila kemudian Sultan Shafiudin bersama beberapa tokoh lainnya secara diam-diam meninggalkan Keraton pergi ke daerah pedalaman yang sulit diketahui VOC.

Nama nama daerah di kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon secara tidak langsung memberikan rangkaian cerita perjalanan Sultan Shafiudin. Dimulai dari Kampung atau blok Capar yang artinya Capai (capek) dan Lapar yang merupakan tempat persinggahan rombongan beliau untuk melepas haus dan dahaga. Nama Kampung Blok pesantren terkait dengan pesantren yang pernah beliau bangun di daerah itu.

Menyusul kemudian nama Sidawangi terkait dengan pesantren yang beliau bangun terkenal kemana mana hingga mengharumkan daerah tersebut. Sida artinya menjadi dan wangi artinya harum. Sultan Syaefudin meninggalkan Desa Sidawangi menyusuri hutan ke sebelah barat lalu membuat pesanggrahan kecil tempat beristirahat bersama para pengikutnya. Tempat itu sekarang disebut Blok Pedaleman, artinya tempat istirahat para dalem atau orang keraton termasuk Sultan Shafiudin.

Disana beliau kembali mendirikan pesantren dan santrinya berdatangan dari berbagai pelosok. Kepada santrinya beliau menganjurkan apabila belajar mengaji jangan tanggung-tanggung, harus sampai matang, dan menggunakan mata hati. Itulah sebabnya hingga sekarang daerah ini dinamakan Desa Matangaji.

Menilik banyaknya daerah yang namanya terkait dengan perjalanan beliau dapat di duga bahwa perjalanan itu memakan waktu cukup lama. Catatan sejarah menyebutkan bahwa masa berkuasanya Sultan Shafiudin hanya 13 tahun saja, sehingga bisa jadi perjalanan tersebut sudah dimulai sejak beliau belum naik tahta sebagai sultan di keraton Kasepuhan.

Terlebih lagi bila kita menelusuri legenda ditengah masayarakat tentang beliau, yang disebut sebut, datang ke (desa) Matangaji tidak sekedar untuk mengajar mengaji tapi juga meneruskan kekuasaan leluhurnya sebagai penakluk ‘mahluk halus’ wiayah barat pulau jawa yang berpusat di Matangaji.

Bagi masyarakat luas di Nusantara, secara umum difahami bahwa seorang sultan tidak hanya merupakan penguasa ‘wilayah lahir’ tapi juga merupakan penguasa di ‘wilayah bathin’. Pusat kekuasaan ‘mahluk halus’ di matangaji pertama kali ditaklukkan oleh Raden Kian Santang, kemudian diteruskan oleh Keponakannya yang tak lain adalah Syarif Hidayatullah sampai kemudian diteruskan oleh Sultan Shafiudin.

Di titik penaklukan itu ditandai dengan sebuah cawan, tempat menampung air kehidupan, banyu panguripan, tirta mala. Meski kau tak kan menemukan setetespun air disana maupun disekitar tempat itu.

Dimanakah tiga tokoh yang disebut namanya itu dimakamkan?. Saya tidak bisa menjawab dengan pasti pertanyaan tersebut. Hanya saja dalam buku tentang komplek pemakaman astana Gunung Jati di Gunung Sembung, disebutkan bahwa Syarif Hidayatullah alias Kanjeng Sunan Gunung Jati dimakamkan di area inti astana gunung jati. Begitupun dengan Sultan Cirebon para penerus-nya. Hanya saja, ada satu kebijakan dari kesultanan bahwa hanya keluarga kesultanan saja yang diperkenankan masuk ke dalam Astana Gunung Jati.

Namun menariknya lagi, di matangaji ada satu makam yang cukup unik. Tak terlihat lawas karena sepertinya senantiasa dirawat, meski dengan nisan yang khas, senada dengan semua nisan makam lainnya yang ada di komplek pemakaman itu. Hanya saja makam satu ini tidak sejajar dengan makam lainnya. Bila makam lainnya (menghadap kiblat) kira kira membujur utara – selatan, makam yang satu ini malah membujur barat ke timur.

Konon, saat dimakamkan posisi makam ini sama seperti makam lainnya. Namun setelah prosesi pemakaman usai, makam tersebut berubah sendiri ke posisinya sekarang ini. Konon kata “pewaris katanya”, kuburan satu itu sudah beberapa kali diperbaiki disesuaikan dengan kuburan lainnya namun lagi lagi kembali ke posisi itu dengan sendirinya. Siapa sebenarnya yang dimakamkan disana ?. yang pasti dia memang berbeda. 

Wallohua’lam bishawab.